Tampilkan postingan dengan label Cakrawala/ Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cakrawala/ Wisata. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Februari 2009

Menikmati Sakura yang Bermekaran di Cibodas Yuk...



KALAU Anda ada waktu di akhir pekan lusa, tak ada salahnya meluangkan waktu untuk pergi ke Kebun Raya Cibodas. Selain menikmati kesejukan udara khas kawasan Puncak, Anda juga akan disuguhi pemandangan memesona yang jarang ada.

Sebab, saat ini bunga sakura (Prunus cerocoides) sedang bermekaran, menebarkan warna merah muda di pucuk-pucuk pohon yang ditanam di Taman Sakura. Ada baiknya Anda tidak menunda-nunda waktu berkunjung ke obyek wisata alam ini. Sebab, bunga sakura yang tengah bermekaran itu diperkirakan hanya akan bertahan sampai dua pekan ke depan.

Pohon-pohon sakura (Prunus cerocoides) yang ditanam di Taman Sakura Kebun Raya Cibodas, Cianjur, bermekaran. Diperkirakan sampai dua pekan ke depan, bunga-bunga tersebut akan bertahan.

Menurut Kepala Balai Konservasi Kebun Raya Cibodas (KRC) Didik Widyamoko, bermekarannya bunga sakura di Cibodas masih sulit diprediksikan. Pihak Kebun Raya masih terus mempelajarinya untuk dapat mengetahui dengan pasti siklus bermekarannya bunga asal Jepang tersebut.

"Munculnya bunga saat ini lebih cepat. Mungkin karena pengaruh hujan dan suhu udara di sini. Kami perkirakan, bunga-bunganya kali ini akan seluruhnya berkembang pada pertengahan Februari mendatang," kata Didik, Rabu (28/1).

Taman Sakura di KRC dibangun pada tahun 2006. Dengan luas taman sekitar 3.200 meter persegi, ada 375 batang pohon sakura ditanam di sana. Setengah dari koleksi pohon itu kini mulai berbunga banyak. Dari kejauhan, deretan pohon sakura yang sudah rontok daunnya itu kemerahmudaan akibat pada batang-batangnya bermunculan bunga, baik yang sudah mekar penuh, maupun yang masih kuncup.

Empat pohon tumbuh terpencar di sekitar danau dan di dekat Kafe Kebun Raya Cibodas. Pada keempat pohon itu, bunga sakura sudah mekar sepenuhnya, sehingga dari kejauhan seperti sebatang gulali rambut putri berwarna merah muda di tengah warna hijau rerumputan dan pohon-pohon tua koleksi KRC.

Menurut mantan Kepala Balai Konservasi KRC Holif Imamauddin, pohon sakura di kavling Q2 atau dekat Kafe KRC adalah pohon yang pertama kali ada di sini; ditanam pada masa penjajahan Belanda tahun 1938, oleh peneliti Belanda pula. Setelah itu, koleksi bertambah karena dapat hadiah dari Hata, peneliti Jepang, dan Presiden RI ke- 5 Megawati Sukarnoputri yang mendapat hadiah dari Pemerintah Jepang.

"Pohon itu sudah tua sekali sehingga matang untuk berbunga. Kalau yang di Taman Sakura, baru belajar berbunga. Bibit kami cangkok dari pohon tua itu. Kami harapkan, sepuluh tahun ke depan, yang ditaman akan berbunga seperti induknya itu," kata Holif Imamuddin, yang memprakasi pembangunan Taman Sakura pada tahun 2006.

Untuk menikmati Taman Sakura, pengunjung harus masuk ke KRC dengan harga tiket masuk Rp 6.000 per orang.

Untuk ke KRC tidaklah sulit. Anda yang biasa ke Puncak bisa mengendarai mobil pribadi atau sepeda motor sampai lokasinya di Cibodas. Dari Jakarta dan Bogor, KRC Cibodas berada di jalur Taman Safari-Cipanas. Papan penunjuknya jelas berada di sebelah kanan. Ada pertigaan besar untuk menuju KRC.

Anda yang menggunakan kendaraan umum juga mudah mencapainya. Jika Anda ke sana di hari kerja, dari Jakarta atau Bogor Anda bisa naik bus jurusan Bandung lalu minta turun di Cibodas. Dari pertigaan itu Anda bisa menumpang kendaraan umum atau sewa ojek.

Jika Anda ke sana di akhir pekan memang harus sedikit repot. Kalau bawa mobil sendiri sebaiknya berangkat pagi-pagi sebelum lalu lintas macet. Kalau naik kendaraan umum Anda harus naik angkutan kota dari Gadog, Bogor, atau Ciawi dan turun di Cibodas. Sebab, pada akhir pekan bus umum jurusan Bandung harus lewat Sukabumi

Selasa, 20 Januari 2009

Dinding Kuno Arsitektur Islam Terbuat dari Bubuk Tulang



Baru-baru ini, para ilmuwan telah menemukan tungku batu bata abad ke-14 yang ternyata dipakai untuk memanggang tulang belulang binatang untuk tujuan tertentu. Uniknya, tulang belulang yang telah dibakar itu dipakai sebagai campuran bahan bangunan.

Setelah dipanggang, tulang-tulang tersebut kemudian dibuat menjadi bubuk yang akan dicampur dengan bahan material lainnya. Campuran inilah yang dipakai untuk melapisi dinding bangunan yang dibuat masa itu.

Lapisan yang sangat kuat tersebut banyak ditemui pada bangunan abad pertengahan berarsitektur Islam yang dibangun di daerah yang kini disebut Granada, Spanyol. Lapisan pelindung dinding penuh ornamen dekoratif yang biasa disebut patina itu menutupi bagian luar bangunan-bangunan yang dibangun peradaban kuno.

Sang pembuat tampaknya memahami ilmu kimia. Dia kerap mencampur bahan baku bangunan dengan kapur atau gips, kuarsa, atau mineral tanah liat. Untuk pewarnaan, peracik menambahkan oksida besi dan hidroksida. Menurut catatan penelitian, bahan baku bangunan tersebut berasal dari susu, kulit telur, minyak, lilin, bahkan darah dan air seni. Studi terbaru mengaitkan tujuan tungku dengan patina di dinding.

"Ini laporan pertama mengenai tulang yang dibakar di patina yang terdapat di monumen Muslim, dan juga artefak arkeologi—kompor dan material mentah—yang digunakan untuk menghasilkanya," ujar Carolina Cardell, salah satu tim peneliti di Universitas Granada.

Dengan menggunakan metode baru untuk mengidentifikas komponen artefak bersejarah, tim peneliti menemukan hidroksi apatit, komponen utama pada zat warna tulang dan tulang binatang, pada patina dinding abad pertengahan di Granada. Uji coba yang digunakan murah dan tidak berpotensi merusak artefak bersejarah. Penemuan tersebut akan dirinci minggu ini di jurnal Analytical Chemistry.

Sebelumnya, bubuk yang terbuat dari tulang yang dibakar telah diidentifikasi pada patina yang digunakan di monumen Kristiani abad pertengahan, Greco-Latin, dan Celtic. "Tetapi sepanjang pengetahuan kami belum pernah ditemukan di konstruksi Medieval Moorish," ujar seorang peneliti.

Barongsai Memperluas Diri



Oleh : Susi Ivvaty

DARI tradisi China kuno berabad lalu, barongsai sampai ke Indonesia dan terus memperluas dirinya hingga kini menjadi seni pertunjukan yang bisa ditampilkan kapan pun. Barongsai yang dulu jadi simbol gengsi perguruan, yang kalau beraksi bisa sampai bertempur beneran, kini menjadi kian lucu.

Atraksi barongsai dan liong, menurut sejumlah sumber, sejatinya memiliki makna dan nilai yang sangat dalam. Karta Lugina (81), sesepuh warga Tionghoa dan Persatuan Gerak Badan (PGB) Bangau Putih (perguruan silat di Bogor), mengatakan, barongsai adalah simbol gengsi sebuah perguruan silat.

Menurut Oscar Kam Hok An (58), pemilik klub barongsai Belpas (belakang pasar Jatinegara), barongsai adalah ritual untuk mendatangkan kemakmuran dan kemaslahatan. Adapun menurut Wakil Ketua Kelompok Barongsai Bio Hok Tek Tjeng Sin Kebayoran Lama Teguh Atmadja, barongsai adalah kendaraan pada dewa.

”Dasar gerakan barongsai adalah jurus-jurus kungfu. Dulu orang harus punya dasar kemampuan kungfu sebelum bermain barongsai. Masing-masing perguruan lalu mengembangkan gaya,” kenang Karta.

Keunggulan sebuah perguruan silat ditunjukkan dari seberapa mahir mereka memainkan barongsai. Karta ingat pada tahun 1950-an, Bangau Putih kerap diundang ke acara Cap Go Meh di Kota, Jakarta. ”Kami bertemu dengan barongsai dari perguruan lain. Kalau itu perguruan ’musuh’, kami harus siap beradu kungfu,” terang Karta yang hingga tahun 1960-an masih aktif main barongsai.

Masa pelarangan

Seperti kita tahu, kesenian barongsai dan liong sempat ”hilang” selama masa Orde Baru, 33 tahun mati suri. Waktu itu barongsai dimainkan secara sembunyi-sembunyi, seperti kelompok Belpas yang hanya berani mengelilingi pasar Jatinegara. ”Latihan pun sembunyi,” ujar Guntur Santoso (50), pengurus Yayasan Vihara Dhanagun dan pemimpin kelompok barongsai Naga Merah Putih Bogor.

Kelompok liong-barongsai di Kelenteng Boen Tek Bio Tangerang pada tahun 80-an juga pernah menyembunyikan barongsai di rumah warga. ”Saat itu, papan nama Boen Tek Bio diturunkan tentara,” kata Oey Cin Eng (70), sesepuh masyarakat Tionghoa di Tangerang.

Pelarangan ini sebenarnya terjadi juga di China. ”Kalau di China karena ada revolusi kebudayaan, dan diizinkan lagi hampir bersamaan dengan Indonesia,” ungkap Amin Kiat Harianto, Ketua Harian Persatuan Liong Barongsai Bogor yang juga pemimpin kelompok barongsai Grup Atraksi Seni Indonesia.

Barongsai riuh semenjak Presiden Abdurrahman Wahid mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 yang mencabut Instruksi Presiden No 14/1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China.

Hingga kini, kelompok barongsai makin banyak. Bahkan ada istilah barongsai ngamen, yakni kelompok yang bermain hanya demi angpau.

Jenis-jenis

Dari asal-usulnya di daratan China, ada tiga jenis barongsai berdasarkan wilayah, yakni Barongsai Utara, Barongsai Selatan, dan Barongsai Peking. Karena di wilayah utara dingin, barongsainya penuh bulu. Daerah selatan yang lebih panas didominasi oleh motif kain, sedangkan Barongsai Peking kaya akan pernik hiasan. Barongsai Utara, menurut Teguh dari Bio Hok Tek Tjeng Sin, berbentuk seram dengan mulut melengkung seperti kucing, sedangkan Barongsai Selatan lebih lucu, mulutnya lurus seperti bebek.

Ada varian lain, yakni Kie Lin, yang agak berbeda dari barongsai. Kie Lin memiliki sepasang tanduk bercabang seperti rusa, bersisik seperti ikan, dan matanya seperti mata kepiting. Kie Lin dikenal pula sebagai tunggangan dewa. ”Kie Lin hanya ada satu ini di Indonesia,” kata Gunawan Rahardja, Ketua PGB Bangau Putih Bogor.

Jenis barongsai kini makin beragam, menyesuaikan budaya setempat. Di Malaysia ada barongsai dengan kepala mirip kepala naga dan bergerak meloncat-loncat di patok-patok besi. Di Semarang ada barong yang bentuknya seperti topeng.

Di Bali, dikenal Barong Landung, yang menurut Pemimpin Sanggar Saraswati I Gusti Kompiang Raka, karakternya mirip Barongsai Utara tetapi berjalan seperti ondel-ondel. Barong Landung perempuan dinamai Jero Luh, berwarna putih dan bermata sipit.

Ada pula Barong Keket mirip singa, Barong Bangkung menyerupai babi, Barong Kedingkling mirip kera, dan Barong Klutuk dengan bulu dari daun pisang.

”Percampuran Bali-China sangat kuat di Bali, termasuk dalam barong,” kata Kompiang. Dan, untuk pertama kali, atraksi Barong Landung tampil berbaur dengan barongsai pada Festival Peranakan di Grand Indonesia, hingga 1 Februari 2009.

Bagaimana kisah Barong Landung? Dulu kala di utara Kintamani terdapatlah kerajaan Panarojan. Sang Raja, Jaka Pangus, jatuh cinta kepada putri Tionghoa bernama Kang Ching Wi. Ia ingin mengawini sang putri, tetapi aturan melarang. Jaka Pangus dan sang putri pun melarikan diri ke Gunung Batur.

Untuk mengenang, masyarakat membikin patung Jaka Pangus dan putri Kang Ching Wi. Konon, merekalah sang Barong Landung itu

Kamis, 08 Januari 2009

Lava Tour Merapi Mulai Diminati


KALIADEM: Panorama Kaliadem di lereng Gunung Merapi kini.

YOGYAKARTA -- Setelah mengalami kerusakan parah akibat erupsi Gunung Merapi 2006, objek wisata alam Kaliadem dan Kalikuning di lereng Gunung Merapi mulai diminati wisatawan terutama sejak dipromosikan sebagai objek wisata "Lava Tour Merapi".

"Selepas bencana erupsi Gunung Merapi yang terjadi 2006 lalu, objek wisata alam Kaliadem dan Kalikuning semakin diminati wisatawan khususnya yang ingin melihat sisa lahar yang menerjang kawasan tersebut," kata Ketua Paguyuban Pondok Wisata Kaliadem-Kalikuning, Bejo Mulyo, Jumat.

Menurut dia, masyarakat di wilayah Kaliadem dan Kalikuning kembali bergairah menekuni sektor pariwisata, apalagi setelah kawasan ini pulih kembali setelah mengalami kerusakan parah. "Sejak dicanangkan sebagai objek wisata 'Lava Tour Merapi' atau wisata erupsi Gunung Merapi, semakin banyak wisatawan yang datang untuk melihat secara langsung kondisi setelah erupsi yang ternyata tidak kalah menariknya dibandingkan kondisi semula," katanya.

Ia mengatakan, wisatawan yang datang ke wilayah Kaliadem tidak hanya sekedar melihat pemandangan alam yang menakjubkan, tetapi banyak dari mereka yang melakukan kegiatan berkemah dan penelitian. "Karena semakin banyak wisatawan nusantara dan mancanegara yang berkunjung ke objek wisata Kaliadem dan Kalikuning, kami juga terus berbenah bersama para pengelola pondok wisata untuk meningkatkan kualitas pelayanan," katanya.

Bejo mengatakan untuk semakin memperkenalkan kawasan wisata ini diharapkan pemerintah daerah meningkatkan promosi sehingga tidak tertinggal dari daerah wisata lainnya.

"Meskipun wisatawan saat ini mulai ramai, namun kami tetap mengharap pemerintah daerah gencar melakukan promosi karena semakin banyak wisatawan yang datang akan semakin meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar," katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pemasaran Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Shavitri Nurmala Dewi mengharapkan masyarakat Kaliadem-Kalikuning dan sekitarnya tetap mempertahankan keaslian wilayahnya. "Objek wisata yang ada di Kaliadem dan Kalikuning ini memiliki kekhasan dan keunikan tersendiri dibandingkan dengan objek wisata lainnya, sehingga harus dipertahankan sebagai daya tarik kunjungan wisatawan," katanya.

Ia mengatakan, komunitas pariwisata Kaliadem dan Kalikuning diharapkan turut mengamati segmentasi dan karakteristik konsumen atau wisatawan. "Berdasarkan pengamatan tersebut akan dievaluasi arah pengembangan dan perencanaan pembangunan sarana dan prasarana yang dibutuhkan," katanya. ant/is

Dieng Simpan 21 Objek Wisata Alam


TELAGA WARNA: Salah satu objek wisata alam andalan di kawasan Dieng.

SEMARANG -- Kawasan wisata Dieng di Jawa Tengah yang menyimpan tidak kurang dari 21 objek wisata alam masih menjadi wisata andalan bagi daerah ini untuk menyedot wisatawan nusantara maupun asing.

Puluhan objek wisata itu memiliki aneka ragam "atraksi alam" baik berupa telaga, gua, sumber air panas, air terjun, dan yang lainnya, sampai saat ini masih menjadi wisata andalan bagi Provinsi Jawa Tengah umumnya, dan Kabupaten Wonosobo serta Banjarnegara khususnya, kata Drs. Markun Sriyanto, pegiat pariwisata di Wonosobo, Rabu.

"Objek wisata alam di kawasan Dieng memang terdapat di dua kabupaten yakni Wonosobo dan Banjarnegara," katanya ketika dihubungi dari Semarang.

Menurut dia, objek wisata alam yang ada di Kabupaten Wonosobo ada sekitar 12 objek, meliputi telaga warna, telaga pengilon, gua Semar, gua sumur, gua jaran, batu tulis/batu Semar, kawah sikendang, telaga cebong, air terjun sikarim, air terjun seloka, Gunung Sikunir dan telaga menjer.

Sedangkan objek wisata alam kawasan Dieng yang masuk Kabupaten Banjarnegara tak kurang dari sembilan objek meliputi Curug Sirawe, Kawah Sikidang, Telaga Balekambang, Telaga Merdada, Telaga Dringo, Kawah Sileri, Kawah Candradimuka, Sumur Jalatunda dan Gua Jimat.

"Sampai saat ini semua objek wisata tersebut terus dikelola oleh masing-masing pemkab tersebut dengan baik, bahkan Dinas Pariwisata Jateng juga aktif memasarkan objek wisata yang ada di daerah ini," katanya.

"Karena itu tidak mengherankan jika OW Dieng sampai sekarang terus diminati baik oleh wisatawan nusantara maupun asing," katanya.

Menurut dia, selain objek wisata alam, kawasan Dieng juga memiliki atraksi budaya berupa hasil olah budi manusia, misalnya seni pertunjukan tari Angguk, dan tradisi cukur rambut gembel serta beraneka ragam seni kerajinan.

Sedangkan peninggalan bersejarah meliputi kelompok Candi Arjuna, Candi Dwarawati, Candi Gatotkaca, Candi Bima, watu kelir, tuk Bimolukar dan Ondho Buddho. ant/is

Dubai Bangun Pantai Mewah Ber-AC


MYLUXURY.ITPALAZZO VERSACE DUBAI: Hotel berlantai sepuluh berfasilitas mewah yang rencananya diresmikan awal 2010.

Suatu pantai ber-AC akan dibuat di Dubai sehingga para tamu hotel dapat dengan nyaman berjalan-jalan di atas pasir meskipun hari sedang panas terik. Situs berita The Australian menyebutkan pantai itu akan berada di sebelah Palazzo Versace Hotel di Dubai.

Suhu musim panas di kota itu rata-rata 40 derajat Celcius bahkan bisa mencapai 50 derajat Celcius. Di bawah pasir pantai ber-AC itu, akan ada jaringan pipa pendingin yang akan menyerap panas permukaan. Kolam renang akan didinginkan dan ada juga usulan untuk memasang kipas raksasa untuk menghasilkan angin sejuk hawa pantai.

Rencana itu mendapat kecaman dari para aktivis lingkungan hidup. Namun, Soheil Abedian, pendiri dan presiden Palazzo Versace, mengatakan bukan mustahil untuk merancang suatu pantai ber-AC yang sifatnya berkelanjutan. "Udara akan disedot dari pasir sehingga orang bisa berbaring dengan nyaman," katanya. "Ini kemewahan yang diinginkan orang-orang top."

Perusahaan Abedian mulai berasosiasi dengan Versace satu dasawarsa lalu dengan ide pertama membuat jaringan resor mewah. Palazzo Versace pertama beroperasi di Australia Gold Coast dan Dubai akan menjadi lokasi kedua setelah hotel itu diresmikan awal tahun 2010. Hotel 10-lantai itu akan memiliki 213 kamar, beberapa di antaranya memiliki kolam renang pribadi, ditambah 169 apartemen. Lebih dari 15 hotel sejenis sudah masuk dalam rencana.

Dubai merupakan kota pertama yang punya hotel berbintang tujuh, Burj Al Arab. Pesaing Versace yaitu Armani, sedang membuat hotel sejenis.

Pantai ber-AC itu bertujuan membuat Versace terdepan dalam dalam menampilkan gaya hidup mewah. Sistem tersebut akan dikendalikan termostat yang terhubung ke komputer. Rencana Versace itu telah mengejutkan aktivis lingkungan hidup.

Rachel Nobel dari LSM "Tourism Concern", yang mengkampanyekan wisata berkelanjutan, mengemukakan karbon yang dihasilkan proyek seperti itu akan berdampak pada perubahan iklim dan orang miskin-lah yang akan merasakan dampak buruknya. "Dubai seperti dunia dalam gelembung di mana hal-hal yang merisaukan seluruh dunia, seperti perubahan iklim, cukup diabaikan agar orang dapat meneruskan gaya hidupnya yang merusak ," kata Nobel

Jumat, 19 Desember 2008

Mari Membaca Kalau Mau Maju


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi oleh Direktur Utama Gramedia, Petrus Waworuntu (kiri) melihat berbagai kelengkapan dan fasilitas yang dimiliki Toko Buku Gramedia usai diresmikan di Grand Indonesia, Shopping Town East Mall, Jakarta Pusat, Jumat (19/12). Dalam kesempatan yang sama Presiden juga meluncurkan bukunya yang berjudul Indonesia Unggul.


JAKARTA, JUMAT — Mari membaca kalau tak mau kering, kalau mau hidup penuh warna, dan kalau mau hidup penuh dengan inovasi. Mari membaca kalau mau bangsa ini terus maju, mari membaca kalau tak mau generasi muda Indonesia "mati gaya" dalam pertarungan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa depan.

Setidaknya tujuan-tujuan ini yang tersirat dalam ajakan mari membaca yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat meluncuran bukunya yang berjudul Indonesia Unggul sekaligus meresmikan Toko Buku Gramedia di Grand Indonesia, Jumat (19/12).

"Bangsa yang maju itu mesti memiliki masyarakat yang maju. Masyarakat maju itu lazim terjadi apabila masyarakatnya gemar belajar dengan berbagai metodologi dan cara. Itu berangkat dari masyarakat yang gemar membaca. Kalau kita ingin jadi advance society harus berangkat dari reading society. Ini adalah jalan yang tepat," ujar Presiden.

Presiden mendorong para orangtua untuk terus menumbuhkan rasa ingin tahu dan kepeduliannya dengan mencekoki mereka dengan ilmu pengetahuan. Salah satunya melalui buku. Dikatakan, menjadi negara yang maju bukanlah sebuah konsep, strategi besar atau kebijakan. Cita-cita negara yang maju adalah kekuatan dari kesatuan pikiran, tekad, dan keyakinan manusia yang tergabung di dalamnya.

"Kalau kita yakin, kita bisa. Jalan itu terbuka. Semua itu terpulang pada pikiran, hati dan tekad kita," tandasnya.

Inggit Ganarsih Diusulkan Jadi Pahlawan



Istri kedua Proklamator RI Soekarno, Inggit Ganarsih, diusulkan menjadi pahlawan nasional asal Jawa Barat. Inggit Ganarsih dianggap sebagai tokoh penting di balik pencapaian intelektual tertinggi Soekarno.

Hal itu terungkap dalam jumpa pers menjelang Seminar Nasional Pengusulan Inggit Ganarsih sebagai Pahlawan Nasional, Rabu (17/12) di Rumah Inggit Ganarsih, Jalan Ciateul No 8, Bandung.

Ketua Panitia Seminar Endang Karman Sastraprawira mengatakan, seminar yang meninjau secara akademis peluang Inggit dijadikan pahlawan nasional akan dilakukan pada hari Ibu, 22 Desember, di Museum Sri Baduga. ”Sosok Inggit sebagai ibu dan istri patut diteladani. Selama 20 tahun mendampingi Bung Karno, beliau memperlihatkan kemuliaan, keteguhan, dan kejujuran, untuk mendukung perjuangan suaminya. Saat Soekarno depresi, Inggit mampu tampil dan berperan penting,” tutur Endang yang juga anggota DPR dari Jawa Barat ini.

Menurut dia, sosok perempuan kelahiran Desa Kamasan Banjaran, Bandung, tahun 1888 ini seolah-olah dilupakan sehingga perlu diangkat kembali. Keberadaan Inggit menentukan keberhasilan Soekarno menjadi tokoh penting bagi bangsa ini. Inggit mendampingi Soekarno saat masuk penjara Sukamiskin hingga dibuang ke Ende.

Ketua Sejarawan Indonesia sekaligus Ketua Badan Pembina Pahlawan Daerah Jawa Barat, Nina Lubis, menyatakan, sudah menerima keinginan masyarakat terkait penetapan status pahlawan bagi Inggit Ganarsih. Pada 10 November 1997, Inggit mendapatkan Bintang Mahaputra Utama dari Presiden Soeharto.

Hal itu akan dikaji lebih lanjut. Ada tujuh kriteria yang harus dipenuhi untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional, di antaranya pengabdian sepanjang hidup pada negara dan dalam riwayat hidupnya tidak pernah melakukan perbuatan tercela.

Sebelumnya, Masyarakat Sejarawan Indonesia mengajukan tiga tokoh asal Jabar sebagai pahlawan nasional, yaitu Syafrudin Prawiranegara, Ahmad Sanusi, dan Mustafa Kamil. (JON/CHE)

Senin, 24 November 2008

Wisman Borubudur Melampaui Target

TRAVEL-EARTH.COM
BOROBUDUR: Wisman melebihi target

BOROBUDUR --
Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang bertandang ke Candi Borobudur, di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, melampaui target tahun 2008."Kalau jumlahnya melampaui target tahun ini, sepanjang tahun ini situasi yang kondusif mendorong penguatan kunjungan wisatawan terutama dari mancanegara," kata Wakil Kepala Unit Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB), Agus Anggoro Murti, di Borobudur


Hingga tanggal 17 November 2008, katanya, wisman yang berkunjung ke Borobudur yang juga salah satu peninggalan peradaban dunia yang terletak di antara Kali Elo dengan Progo, Kabupaten Magelang itu sebanyak 116.885 orang, sedangkan target kunjungan wisman tahun 2008 sebanyak 102.519 orang.Ia mengatakan, wisman ke Borobudur antara lain berasal dari Belanda, Jerman, Jepang, Perancis, Rusia, Belgia, Inggris, Spanyol, Swiss, dan Taiwan.


Biasanya, katanya, wisman berkunjung ke Borobudur pada bulan Juli hingga Oktober."Puncak kunjungan wisman selama empat bulan, antara Juli hingga Oktober, kalau seperti sekarang rata-rata 50 hingga 100 orang per hari," katanya.


Ia mengatakan, pada tanggal 4 November 2008, Candi Borobudur dikunjungi rombongan wisman berjumlah 317 orang terutama dari negara-negara di Eropa yang menumpang sebuah kapal pesiar dari Belanda, sandar di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang. Pada hari yang sama bertandang pewaris Kerajaan Inggris, Pangeran Charles.Kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) di Borobudur hingga saat ini, katanya, sebanyak 1.785.286 orang sedangkan target wisnus tahun 2008 sebanyak 1.794.419 orang."Kami optimistis akan mampu memenuhi target kunjungan wisnus hingga akhir tahun ini, karena masih ada masa liburan besar seperti Iduladha, Natal, dan tahun baru," katanya.


Berbagai upaya penting dilakukan pihak TWCB untuk memberikan pelayanan terbaik kepada para wisatawan terutama menyangkut peningkatan sarana dan prasarana kepariwisataan serta pengembangan atraksi wisata di Candi BorobudurPeringatan perjalanan kunjungan ke Indonesia dari beberapa negara kepada warganya masing-masing akhir-akhir ini dan eksekusi terhadap tiga terpidana mati kasus Bom Bali I (Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudra) pada hari Minggu (19/11), katanya, tidak memengaruhi kunjungan wisman ke Borobudur, kata Agus Anggoro

Anak Indonesia Suarakan Pesan Perdamaian di Jenewa

Anak-anak dari Teater Tanah Air, dengan sutradara Jose Rizal Manua, membawakan naskah karya Remy Sylado, Bawang Merah, Bawang Putih, Bawang Bombay, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (30/3). Teater beranggotakan 100 anak dan remaja ini beberapa kali meraih penghargaan internasional.

Anak-anak Indonesia yang tergabung dalam Teater Tanah Air menyampaikan pesan perdamaian kepada dunia melalui pertunjukan bertajuk PEACE di Kantor PBB (Palais des Nations), Jenewa.

Menurut keterangan resmi yang diterima Antara di Jakarta, Jumat, dari Perutusan Tetap RI pada PBB, WTO dan Organisasi-Organisasi Internasional lainnya di Jenewa, pagelaran budaya itu diselenggarakan bertepatan dengan peringatan United Nations Universal Childeren’s Day yang jatuh pada 20 November.

Pergelaran budaya di bawah arahan sutradara piawai Jose Rizal Manua itu berhasil menyedot ratusan penonton yang sebagian bahkan tidak mendapat tempat duduk dan memperoleh apresiasi kekaguman dari kalangan korps diplomatik dan masyarakat internasional di Jenewa.
Dalam sambutannya Kuasa Usaha ad interim PTRI Jenewa Duta Besar I Gusti Agung Wesaka Puja mengatakan bahwa anak-anak adalah aset berharga yang menentukan masa depan bangsa sehingga suara mereka perlu didengar demi mewujudkan masa depan yang lebih baik dan segala upaya anak-anak untuk memajukan budaya, khususnya di tingkat internasional, hendaknya didukung penuh.

Pergelaran budaya itu, lanjut dia, juga untuk mempromosikan seni budaya tradisional dan menampilkan duta-duta muda bangsa di kancah internasional.
Sementara itu Perwakilan dari Kantor PBB di Jenewa Pierre Le Loarer menyambut baik upaya Indonesia dalam memajukan seni budaya tradisional yang melibatkan anak-anak baik dalam media lukisan maupun tarian.

Dia berharap peringatan UN Universal Children’s Day dengan tema perdamaian yang diusung dalam acara itu dapat meningkatkan apresiasi dan perhatian terhadap masa depan anak-anak.
PTRI Jenewa bekerja sama dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Pemerintah Jawa Barat dan Direktur Jenderal Kantor PBB di Jenewa Sergei Ordzhonikidze menampilkan kelompok Teater Tanah Air (yang terdiri dari 13 anak), Le Sangkuriang (kelompok angklung masyarakat Indonesia maupun Swiss di Jenewa yang membawakan tiga lagu yaitu Osolemio, Manuk Dadali dan Les Champs-Elysees serta pameran lukisan pelukis kawakan asal Bandung Herry Dim dengan tema "A Child’s World of Hope and Peace di Salle de pas Perdu, Palais des Nations.

Pertunjukan budaya yang dibawakan oleh Teater Tanah Air dimaksudkan untuk mengangkat tema perdamaian yang diintepretasikan melalui kacamata anak-anak dimana hal itu merupakan isu utama yang senantiasa diusung oleh PBB.

Dengan menggabungkan aneka tarian dan permainan tradisional anak-anak Indonesia dalam bentuk seni kontemporer, Teater Tanah Air berhasil menampilkan sosok anak Indonesia yang dinamis dan tetap menghargai warisan budaya dan seni tradisional Indonesia, sekaligus menyampaikan pesan perdamaian kepada dunia.(ANT)

Senin, 17 November 2008

Ragam Pesona Alam Ciwidey

BANDUNG--Keindahan Kota Bandung dan pesona alam banyak daerah di wilayah Priangan tampaknya tidak pernah tenggelam kendati di saat musim penghujan memasuki akhir tahun seperti sepanjang November 2008. Ciwidey adalah salah satunya. Daerah ini merupakan sebuah kawasan yang banyak memiliki objek wisata alam tetap menarik dan bahkan memiliki pesona lain yang bisa dilihat pada musim penghujan.
Dari banyak objek wisata di Ciwidey, sekitar 40 kilometer selatan Kota Bandung yang sekarang masuk wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada bagian paling atas pendakian terdapat Situ Patenggang berupa danau di sisi bukit kebun teh menyediakan perahu untuk pengunjung yang ingin berkeliling situ dengan air tenang dan bening. Para pengunjung hanya beberapa saat mendayung perahu seolah sudah "tertelan" kabut embun yang hanya ada pada saat musim penghujan.
Setiap orang pengunjung yang ingin berkeliling naik perahu cukup membayar Rp 15 ribu dengan bersama pengunjung lainnya bisa melihat pemandangan di dasar Situ Patenggang yang berhawa sejuk sambil menikmati minuman khas bandrek penghangat tubuh.
Pada dataran tinggi Situ Patenggang terdapat villa yang bisa disewa untuk rombongan yang perlu menginap dari tarif Rp800 ribu/malam dengan tiga kamar, sebuah villa pada bagian atas hanya Rp400 ribu/malam juga dengan tiga kamar, dan villa lainnya.
Menurut pengelola villa di kawasan tersebut, sudah banyak orang dari Jakarta, Bandung dan kota lainnya di Indonesia yang menjajaki untuk sewa villa menghabiskan hari libur akhir tahun.
Seorang wartawan senior di Bandung, Her Suganda dalam buku "Jendela Bandung, Pengalaman Bersama Kompas" bercerita banyak tentang keindahan Pariangan, termasuk petunjuk mendatangi kawasan Ciwidey. Untuk menjangkau kawasan wisata Ciwidey bisa melewati pintu tol Kopo, Sayati, Soreang.
Selain Gunung Patuha, Ciwidey memiliki beberapa tempat yang selama ini banyak dikunjungi wisatawan berupa Perkebunan Teh Gambung, Punceking, Perkebunan Teh Patuha, Pemandian Air Panas Cimanggu, Wanawisata Ranca Upas, Agrowisata Walini dan Rancasuni.
Perkebunan Teh Gambung terletak pada ruas jalan Soreang-Ciwidey kemudian memasuki jalan menuju Balai Penelitian Teh dan Kina (BPTK) Gambung. Di tempat ini terdapat makam Ir. Rudolf Kerkhoven, salah seorang pionir Preanger Planters.
Adapun Punceling merupakan wanawisata seluas tiga hektare, berupa hutan alam dan hutan Eucalypus yang biasa dijadikan tempat kegiatan wisata lintas alam dan sumber air panas. Letaknya tidak jauh dari Kawah Putih.
Perkebunan Teh Patuha bisa ditempuh dengan jalan kaki selama kurang lebih satu jam dari Kawah Putih. Udaranya sejuk dengan pemandangan indah. Selain bisa melihat Kawas Saat di Gunung Patuha, dari perkebunan ini bisa terlihat keindahan Situ Patenggang.
Pemandian air panas Cimanggu, dibangun di atas lahan lima hektare pada tahun 1987 dan merupakan pemandian air panas yang dilengkapi dengan kolam pemandian terbuka, kamar-kamar pemandian tertutup, dan villa.
Wanawisata Ranca Upas, merupakan wanawisata yang dibangun di atas lahan seluas 14,5 hektare. Sekitar 10 Ha di antaranya merupakan hutan biasa yang dimanfaatkan untuk lintas alam dan lapangan terbuka untuk berkemah, 4,5 Ha tempat penangkaran rusa (Cervus timorensis).
Melalui shelter yang dibangun pada pintu masuk, pengunjung bisa menikmati sepuas-puasnya perilaku rusa dan rusa bisa dipanggil melalui lengkingan suara pawang.
Agrowisata Walini dan Rancasuni, selain merupakan perkebunan teh, agrowisata ini memiliki fasilitas kolam renang air panas, villa, dan cottage.
Adapun makanan khas Ciwidey berupa kalua dan sonco dengan bahan baku dari kulit jeruk bali yang kemudian dicampur gula dan diberi zat pewarna agar menarik. Selin itu juga ada minuman khas bandrek banyak dijajakan di kios-kios yang terdapat di kiri-kanan jalan tidak jauh dari Pasar Ciwidey.
Pesona lain dari Ciwidey berupa buah stroberi segar dengan cara memetik sendiri dari kebun, banyak ditawarkan para petani di sepanjang jalan Desa Alam Endah, ada juga dijadikan dodol yang dikemas dalam dus kecil.
Objek wisata alam di kawasan Ciwidey tampaknya cukup aman untuk dikunjungi pada musim penghujan karena kondisi jalan yang relatif stabil, berbeda objek wisata alam lainnya di Jawa Barat yang cukup rawan dikunjung pada musim penghujan seperti kawasan sekitar Gunung Galunggung di wilayah Tasiklamaya. Pada saat musim penghujan jalan licin dan ancaman bahaya longsor.
Menurut Kasubdin Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawab Barat Drs. Wawan Irawan , kalau tetap mau dan memaksakan diri datang ke kawasan Gunung Galunggung, datanglah selagi hari masih pagi agar dapat merayapi Kota Tasikmalaya yang masih berselimutkan kabut. Udara dingin tidak membuat cepat letih menapaki anak tangga.

Minggu, 16 November 2008

Cleopatra, Negeri Padang Pasir ( Perjalanan Pembuatan Film Ketika Cinta Bertasbih)

PIRAMID: Pesona di tengah lautan pasir
APAKAH benar Cleopatra itu sangat cantik
seperti yang digambarkan pujangga terkenal Inggris, William Shakespeare bahwa wajah Ratu Mesir kuno itu, sulit untuk dilukiskan kecantikannya dengan kata-kata.Bahkan Cleopatra, yang juga terlibat cinta dengan kaisar Romawi yang legendaris, Julius Caesar, juga mengilhami Shakespeare untuk menulis sebaris syair, “Kecantikannya tak pernah lekang ditelan usia dan masa.

”Cleopatra yang cantik dan cerdas juga pernah diangkat ke layar perak lewat film Cleopatra pada 1963. Aktris cantik dan terkenal Hollywood saat itu, Elizabeth Taylor memerankan Cleopatra.Tapi itu mungkin merupakan salah satu mitos yang terus berlangsung yang dilestarikan oleh orang seperti Elizabeth Taylor yang memerankan dirinya dan sulit sekali untuk menghilangkan hal itu dari benak semua orang.

Bagi saya mitos itu tidak sepenuhnya benar. Cleopatra tak secantik dan seindah bayangan saya. Setidaknya hal itu tergambar saat saya menginjakan kaki di negeri Cleopatra, Ratu Mesir yang konon katanya tersohor dengan kekecantikannya itu.Setelah menempuh perjalanan cukup panjang dari Jakarta via Abu Dhabi selama 14 jam, saya dan rombongan wartawan tiba di Bandara Internasional Kairo, Mesir, Rabu (29/10).

Kedatangan kami ke negeri Cleopatra ini untuk meliput proses syuting film Ketika Cinta Bertasbih (KCB). ''Assalamualaikum, Ahlan wasalan!. Syaroftumuni,'' sapa Fathuroji menyambut kedatangan kami.

Oji begitu ia disapa merupakan mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan S1 di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Kesan pertama saya, cukup kaget ketika dimintai bayaran lima dolar saat ke luar dari toilet yang kusam dan tak terawat di bandara yang tampak tua dan sekilas tidak seperti layaknya sebuah bandara internasional.

Selepas pengambilan bagasi dan memastikan semuanya beres, kami menaiki bus menuju hotel di District Nasr City Cairo. Di suasana dinginnya malam menjelang pagi, Oji yang seterusnya akan menjadi guide mulai menjelaskan suasana Mesir dengan beragam obyek wisatanya dan rencana selama meliput film KCB di negeri Firaun ini.Sementara saya membuka-buka peta turis Mesir yang saya beli di Jakarta. Di buku "Welcome to Egypt, Live Your Dream" itu menampilkan foto gadis-gadis cantik, Piramida, Sphinx, Sungai Ni, pantai Alexandria, Benteng Shalahuddin, Masjid Amr' bin Ash dan tempat-tempat wisata menarik dan indah lainnya yang ada di Kota Kairo, Alexandria, dan Luxor.

''Ya insya-Allah,'' kata Oji yang dalam dua minggu di Mesir kami dapat melihat semuanya. Kata Oji lagi, kami cukup beruntung mengunjungi Mesir pada Nopember ini, di mana cuaca cukup sejuk bersahabat. Temperatur rata-rata hanya sekitar 15 derajat celcius. Di Mesir ada Empat musim, panas, gugur, dingin dan semi. Kalau musim panas suhu bisa mencapai 45 derajat celcius.

***

SEMRAWUT, kotor, kusam, berdebu dan kumuh. Itulah gambaran suasana pagi menjelang siang di sebagian besar Kota Kairo. Suasana di ibukota Mesir ini sungguh kontras, tidak seperti dalam bayangan saya dan juga bila dibandingkan foto-foto di buku "Welcome to Egypt, Live Your Dream".

Di dalam bus menuju Monumen Sadat, tampak jejeran flat-flat dengan warna kusam berikut hiasan jemuran yang bergelantungan dan serakan sampah dimana-mana. Tampak juga kesemrautan lalulintas dipadati utubis–sebutan untuk bus dengan penumpang yang berjubel, taksi-taksi tua bermerk Fiat buatan tahun 70-an, dan beragam mobil-mobil tua, mewah yang berbagi jalan dengan trem, kereta api dan gerobak keledai.

Tidak ada lampu merah dan tidak banyak ada tanda-tanda lalulintas. Hampir semua kendaraan dipacu dengan ungal-ugalan, saling menyrobot dan berbelok seenaknya. Tampak hampir semua kendaraan dengan kondisi lecet-lecet dan penyok. ''Lampu sen tidak berlaku. Senggolan antar mobil sudah biasa dan bukan menjadi masalah,'' tegas Oji.

Jika terjadi kemacetan di perempatan jalan kebisingan klakson terdengar sahut menyahut bercampur dengan suara orang berantem, “cek-cok” adu mulut. Tapi satu hal, tak ada anarkisme fisik. Orang Mesir jika berantem, pake prinsip NATO, No Action, Talk Only. ''Wow! Parah banget, ternyata Jakarta jauh lebih baik,'' ujar Oki Setiana Dewi, salah satu artis pemeran utama film KCB.

Tiba di Monumen Sadat, rombongan wartawan bersama para pemain dan kru film KCB langsung berhamburan ke luar untuk melihat dari dekat tempat terbunuhnya mantan Presiden Mesir yang sangat populer itu.Presiden Anwar Sadat dibunuh 6 Oktober 1981 ketika sedang memimpin upacara parade militer memperingati perang Yom Kippur. Konon kabarnya, Anwar Sadat diberondong peluru dari jarak dekat oleh beberapa tentara radikal yang menentangnya. Alasan di balik pembunuhan itu sendiri masih menyimpan banyak misteri.

Dan di seberang panggung tempat peristiwa pembunuhan inilah dibangun sebuah monumen untuk mengenang jasa-jasa almarhum atas negaranya. Monumen Sadat dijaga oleh sepasukan kecil tentara Mesir yang ramah. Ketika diajak berfoto bersama oleh kami, para prajurit muda tersebut dengan antusias menyambutnya.

Republik Arab Mesir saat ini diperintah Presiden Hosni Mubarak yang berkuasa sejak terbunuhnya Anwar Sadat. Mesir adalah sebuah negara yang sebagian besar wilayahnya terletak di Afrika bagian timur laut dengan luas wilayah 997.739 km. Hampir 90 persen penduduk Mesir dengan 74 juta jumlah penduduknya beragama Islam sisanya beragama Kristen (didominasi Coptic).

Sama seperti di Indonesia, saat ini masa depan Mesir terancam akibat dampak krisis ekonomi dunia. Untuk itu pemerintah Mesir mentargetkan pertumbuhan ekonomi 6 atau 7 persen setiap bulan dalam kurun waktu 2008-2009 dan segera mengambil langkah-langkah ekonomi yang strategis.

***

UNIVERSITAS al Azhar, Kairo jadi tempat syuting pertama film KCB. Syuting pada Jumat (31/10) dilakukan di dalam kampus dan kawasan toko buku di belakang kampus tertua di Mesir ini.Kembali saya "kecele" ternyata kesohoran Universitas al Azhar yang memiliki masjid dengan menara kembar satu-satunya di Mesir ini tidak semegah yang saya bayangkan, suasananya kusam dan kotor.

Pada syuting di kompleks Al Azhar ini ada dua bintang KCB yang beraksi yakni M. Cholidi Asadil Alam (pemeran Azzam) dan M. Azzam Shidqi (pemeran Nanang) serta didukung 50 figuran yang terdiri dari 20 mahasiswa Indonesia di Mesir dan 30 warga Mesir.Saat syuting di tempat para mahasiswa Al Azhar berburu kitab, para kru KCB harus berjuang keras menyelesaikan setiap scene. Di lokasi ini kondisinya menyerupai pasar dengan aroma tak sedap bersumber baik dari tumpukan sampah yang berserakan maupun keringat orang Mesir menyengat semerbak.

Jalan yang sempit, banyak orang yang lalu lalang berbaur dengan mobil yang juga cukup banyak melintas tentu dengan kebisingan klaksonnya ditambah dengan kebiasaan orang Mesir yang berbicara dengan suara yang berteriak menambah suasana "krodit".Hal itu membuat pelaksanaan syuting tentu sedikit mengalami ganguan. Namun secara keseluruhan, syuting di hari pertama berjalan lancar. ''Semuanya berjalan relatif lancar. Tidak ada masalah,'' kata Chaerul Umam, sutradara film KCB. ''Komunikasi para pemain, kru Indonesia dan kru Mesir juga tidak ada masalah,'' tambahnya.

Menurut Dubes RI untuk Mesir, A.M. Fachir, selama lebih dari seribu tahun Universitas Al-Azhar mampu menarik minat jutaan pemuda Islam dari seluruh dunia untuk menimba ilmu. ''Diperkirakan saat ini mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Mesir sebanyak 5.000 orang. Terbanyak kuliah di Al Azhar,'' ungkap Fachir.

Hal itu juga yang melatarbelakangi kisah dalam novel laris KCB karya Habibburahman El Shirazy yang diangkat ke layar lebar ini. Kang Abik, begitu sapaan akrabnya pernah merasakan kuliah di Al Azhar.Film KCB mengisahkan tentang kehidupan Abdullah Khairul Azzam, pemuda tampan dan cerdas berusia 28 tahun. Azzam berhasil memperoleh bea siswa untuk belajar di Universitas Al Azhar. Azzam kuliah sambil bekerja membuat tempe dan bakso yang ia pasarkan di lingkungan KBRI di Kairo.

Suatu saat Azzam berkenalan dengan puteri Duta Besar, namanya Eliana Pramesthi Alam (diperankan Alice Noorin). Tetapi Azzam merasa lebih cocok dengan seorang gadis cantik bernama Anna Althafunnisa, (diperankan Oki Setiana Dewi). Anna yang berjilbab ini sedang mengambil S-2 di Kuliyyatul Banaat Universitas Al Azhar.

Sementara itu, diutarakan Dani Sapawie, line producer film KCB selanjutnya syuting akan mengambil lokasi di Masjid Amru bin Ash, pasar Khan Khalili, Sungai Nil, Gamma'a Bridge, Benteng Qaitbai, Piramida, Sphinx, dan pantai Alexandria.

Menurut Dani, syuting di bumi para nabi ini ternyata banyak persyaratan berlaku, salah satunya adalah dilarang mengambil gambar kekumuhan di Mesir. Aturan-aturan tersebut memang sudah jadi persyaratan yang diminta pemerintah Mesir. ''Di Mesir juga ada aturan kerja. Kalau hari libur para kru dan pemain Mesir harus di gaji dua kali dari hari biasa,'' tuturnya.

Gaya hidup
ABDUL Hilal Tohir, mahaiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan S1 di Al Azhar mengatakan, orang Mesir kalau berbicara seperti sedang bermain teater, seluruh tangan dan tubuh bergerak dengan intonasi vokal yang cukup keras. ''Mereka bekerja dengan ritme yang cepat dan praktis. Mereka tidak mengenal gaya hidup. Mereka tidak bergaya dengan mobil-mobil mewah, tidak bergaya dengan menggunakan HP yang cangih dan terbaru,'' tutur Tohir.

Tohir menambahan, dibadingkan perempuan yang tampil lebih modis dengan dandanan yang menor. Para pria Mesir kurang memperhatikan penampilan dengan dandanan dan mengenakan pakaian seadanya yang tampak kotor dan lecek. ''Kebiasaan jelek orang Mesir membuang sampah sembarang dan jarang merawat dan membersihkan mobil,'' tegasnya.

Namun, kebiasaan orang Mesir yang patut diacungkan jempol yakni kebiasaan membaca Al Qur’an di jalanan, di dalam kendaraan, di kantor, bahkan di mal-mal sekalipun. Mereka membaca dan menghafal Al Qur’an dengan khusyuk.Jika Anda berkesempatan naik bus, trem atau kereta di Kairo, jangan heran jika banyak penumpang yang membaca Al-Qur’an. Meski dalam suasana penuh sesak. Ada yang sambil memegang mushaf, juga tidak sedikit yang menggunakan hapalan.

Jika Anda berjalan menelusuri pasar, sampai gang-gang pinggir kota yang kumuh itu, dipastikan suara bacaan murattal Al-Qur’an lebih nyaring terdengar dibanding suara-suara lainnya. Kaset-kaset bacaan Al-Qur’an, juga di-stel hampir di setiap toko, masjid dan kendaraan umum.

Menurut M Ali Hasan, (32) lulusan Universitas Al Azhar yang kini memilih menetap di Kairo dan beristrikan orang Kairo dengan satu anak ini mengatakan bahwa orang Mesir sudah terbiasa menghapal Al Quran sejak kecil.''Berdasarkan data ada 12,3 juta penghapal Al Qur’an atau bisa diartikan, setiap bertemu dengan enam orang Mesir, maka dipastikan salah satunya hafal 30 Juz Al-Qur’an,'' ujar Ali.

Pesona kekumuhan
SENJA belum sepenuhnya beranjak dari Taman Al Azhar. Beberapa ekor burung gagak tampak beterbangan di atas rimbun pohon-pohon kurma, cemara, limau, dan zaitun yang terhembus semilir angin di kaki lembah Muqattam ini. Saya cukup surprise melihat taman yang bersih dan indah ini.

Pada Kamis,tampak pengunjung cukup ramai. Setiap pengunjung dikenakan biaya 10 pound, sekitar Rp 160.000. ''Hari Kamis, weekend-nya orang Mesir, karena hari Jumat dan Sabtu merupakan hari libur. Ahad, hanya masyarakat non muslim yang libur,'' ujar Oji.

Mungkin inilah rahasia di balik kekumuhan kota Kairo. Acungkan dua jempol dan takjub saat menyaksikan kota metropolitan yang mirip kawasan bekas perang dari taman dengan ketinggian 152 meter. Terhampar di bawah arsitektur bangunan bagaikan situs kota purbakala dan akan menjelma menjadi panorama yang cantik dan menawan ketika kota itu diterpa senja dengan sunset-nya. Melihatnya, serasa dituntun waktu, ke sebuah masa dan seolah-olah bercerita akan masa keemasan peradaban negeri Cleopatra ini.

Tampak juga benteng Shalahuddin berdiri gagah. Matahari yang tengah surup menjadikan benteng itu tampak hitam, luas, besar, dan gagah dalam panorama siluet. Di tengah-tengah benteng menjulang sebuah kubah besar dengan empat menara yang mengitarinya. Itulah masjid Muhammad Ali Pasha yang tampak menyembul di tengah-tengah benteng, seolah menambah kesan magis panorama benteng yang menyimpan epos perang Salib di abad ke 12 itu.

Dari taman Azhar terlihat juga hamparan area tanah pekuburan dengan bentuknya yang unik yang disebut dengan kawasan Mamluk Cemeteries. Tampak juga pemandangan lembah Muqattam yang menjulang dengan gagahnya. Ketika senja, lembah itu tampak berwarna keemasan.

Juga terlihat jelas tembok besar setinggi 25 meter yang mengelilingi kota Kairo. Namanya tembok Qâhirah Al-Mu’izz. Pada tahun 973 M, Al-Mu’izz li Dinillah (khalifah pertama dinasti Fathimiyyah di Mesir) mendirikan kota baru. Al-Mu'izz menamakannya Al-Qâhirah (Cairo, Kairo), yang berarti penakluk. Pada tahun 980 M, Al-Mu'izz mendirikan masjid dan universitas Al-Azhar. Nama Al-Azhar dinisbatkan kepada sayyidah Fatimah az-Zahra, puteri baginda Rasul.
***

TABUHAN musik khas Timur Tengah berikut sajian tarian perut yang eksotik memecah keheningan malam dengan hamparan cahaya lampu yang menerpa Sungai Nil. Saya sempatkan nongkrong di kafe di pingiran Sungai Nil untuk sejenak menikmati malam di kota pusat peradaban agama Islam ini.

Saya hanya memesan satu gelas teh hangat dan satu paket “sheesha” (water pipe), rokok tabung khas Mesir yang disedot dengan pipa sepanjang setengah meter. Saya juga menikmati hilir mudiknya Maratun Jamellatun (gadis-gadis Cantik). Gadis-gadis Mesir dengan paduan jilbab-nya yang modis tampak cantik di malam hari.

Di siang hari, secara umum gadis-gadis Mesir tidak secantik mitosnya. Cleopatra, dagunya lancip, bibirnya tebal, hidungnya sangat mancung dan badanya terlalu besar. ''Cantiknya gadis-gadis Mesir itu cuma tiga hari,'' ujar Andy Arsyil, artis pemeran Furqon dalam film KCB.

Banyak sebenarnya cerita soal Mesir, mulai dari masalah politik yang mirip zaman Orba di Indonesia, hingga cerita kehidupan orang-orang Mesir. Itulah Mesir dengan Kairo sebagai kota laksana banci, yang hanya tampak cantik dan jelita jelang dan malam hari yang tak pernah surut dari wisatawan asing.

Para wisatawan mungkin justru tertarik dengan peradaban dan puing-puing sejarah berikut pesona kekumuhannya itu. Terlebih dengan keberadaan Piramida & Sphink, kisah Firaun & Clopatra-nya, pesona kota Alexandria serta bentangan Sungai Nil yang indah. Mungkin semuanya itu 'hadiah' untuk Mesir

Bernard Aps, Tersihir Gamelan Jawa di Leiden

Awalnya adalah gamelan Jawa yang dilihatnya di Museum Etnologi Leiden, Belanda, saat masih usia kanak-kanak. Alat musik dari negeri timur jauh itu menyihirnya, mencipta obsesi yang semakin menggelembung seiring bertambahnya usia.

Gamelan itu lalu menjadi gerbang baginya untuk memasuki belantara budaya Jawa, kemudian Indonesia. Bernard Arps (47) adalah satu-satunya guru besar bahasa dan budaya Indonesia dan Jawa di Universitas Leiden.

Hubungan Bernard dengan Pulau Jawa berlangsung lama. Kakek Bernard pernah tinggal di Jawa Barat sebagai misionaris pada 1920-1950. Ayahnya, BFH Arps, juga lahir di Bandung, Jabar.

”Ayah saya yang lahir di Jawa tak pernah kembali ke sana hingga 1970-an. Tetapi, cerita tentang Jawa sering diperbincangkan di rumah kami sejak saya masih kecil. Namun seperti kebanyakan orang Sunda waktu itu, orang Jawa diperbincangkan dengan sedikit rasa curiga,” kata Bernard, yang mengaku sejak kecil tertarik pada budaya-budaya asing.

Selain Jawa, ia juga terobsesi dengan budaya China dan Indian. ”Sejak kecil saya suka mengkliping berita tentang budaya asing dan mengumpulkan benda-benda dari budaya asing itu,” katanya.

Pertemuan pertama
Perkenalan Bernard Arp sesungguhnya dengan Jawa dimulai tahun 1979 ketika baru lulus sekolah menengah atas. Obsesinya yang semakin besar untuk mengenal Jawa mendorong dia bekerja dan mengumpulkan uang untuk pergi ke Jawa.

Pada tahun itu, untuk pertama kali ia datang ke Jawa. Selama tiga bulan ia tinggal di Solo dan belajar gamelan di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI kini ISI—Institut Seni Indonesia). Di Solo ia tinggal di Kampung Kemlayan Kidul, lalu pindah ke Kratonan.

Kesendirian di Solo mencipta rindu pulang ke rumahnya di Belanda. ”Saya ke Jawa membawa harapan terlalu besar, bisa berbaur dengan anak-anak muda setempat,” katanya.
Dengan sebagian anak muda, Bernard memang diterima dan masih bersahabat sampai kini. Tetapi, dengan kebanyakan orang lain ternyata ia dicurigai. ”Saya dianggap orang luar. Jangan lupa, ini Solo tahun 1970-an. Orang asing waktu itu masih sedikit.”
Kesendirian dan adanya penolakan dari sebagian masyarakat sekitar terhadap orang asing hampir membuatnya patah arang. ”Waktu itu saya pernah bersumpah tak ingin kembali ke tanah Jawa,” katanya.

Tetapi, janji itu dia langgar. Satu tahun kemudian, setelah menjadi mahasiswa Jurusan Bahasa dan Budaya Indonesia di Universitas Leiden, ia kembali ke Jawa. Kali ini, ia lebih siap. Ia datang ke Solo bersama dua teman yang sama-sama mencintai gamelan. Selama tiga bulan mereka tinggal di Solo. Ia belajar musik dan wayang kulit.

Obsesinya untuk mengenal budaya Jawa semakin luas. Ia juga mulai menyelami budaya dan manusia Jawa yang melahirkan musik dan wayang kulit itu. ”Dari gamelan dan wayang, saya masuk ke konteks budaya yang melahirkan karya itu,” ungkapnya.

Berikutnya, hampir setiap tahun Bernard Arps kembali ke Jawa untuk durasi satu hingga 11 bulan. Selain Solo, ia datangi juga Yogyakarta. Di kota itu ia mengamati tradisi penuturan literatur Jawa melalui macapatan. Perjalanan Bernard di Pulau Jawa pun membawanya kepada masyarakat Using di Banyuwangi. Di sini ia juga menemukan tradisi penuturan literatur. Ia membandingkan antara tradisi macapatan di Yogyakarta dan pesisiran Banyuwangi.
Ketekunan menyelami budaya Jawa membuat dia meraih gelar guru besar dari Universitas Leiden. Ia menjadi pewaris tradisi pemikir besar tentang Indonesia dari universitas ini, salah satunya, Snouck Hurgronje.

Akar yang berbeda
Sebagai orang asing yang berasal dari budaya berbeda, Bernard memiliki keuntungan saat mempelajari budaya Jawa. ”Saya merasa cocok dengan budaya Jawa, tetapi kadang ada jarak dan merasa aneh terhadap suatu hal. Karena, tetap saja saya berasal dari budaya yang berbeda.”
Perbedaan itulah yang membuatnya lebih peka membaca situasi di Jawa dan menjadi sumber semangat untuk menelitinya lebih jauh. Salah satu hal yang asing lalu menjadi topik penelitiannya adalah budaya ”omong kosong” yang disampaikan dalam acara kirim salam di radio-radio.

”Apa maunya orang kirim salam?” Pertanyaan itu mengganggu benaknya. Bagi dia, orang-orang Jawa membuang waktu dengan kirim salam. Lebih aneh lagi, mereka sering mengungkapkan hal yang bersifat pribadi di depan publik.
”Di Belanda kirim salam juga ada, tapi biasanya ada alasan jelas, misalnya ulang tahun atau ucapan selamat kelulusan. Tapi di radio di Jawa, terkadang tanpa alasan sama sekali.”
Setelah mendalami dan meneliti, Bernard menemukan bahwa budaya omong kosong lewat kirim salam di radio itu merupakan salah satu ajang membentuk dan mempererat jaringan sosial yang unik.

”Jaringan sosial ini bisa melibatkan orang yang tak berjauhan, bahkan tidak pernah bertemu sebelumnya,” katanya.
Studi Jawa di Leiden
Universitas Leiden, pengujung Oktober 2008. Musim dingin telah tiba. Daun-daun maple di sekitar kampus mulai luruh, meninggalkan jejak karpet kuning di tanah. Angin yang sesekali berembus mencipta gigil.

Di Kampus Universitas Leiden, rasa gigil itu menguap. Menemui Prof Bernard Arps, membincangkan Jawa dan Indonesia dari jauh, membuat pikiran menjadi lebih hangat.
Tiga puluh tahun melihat dan menyelami Indonesia, khususnya Jawa, masih menyisakan banyak tanya dan keingintahuan di benak Bernard. Indonesia masih menarik untuk dipelajari, terutama karena keanekaragaman budaya dan bahasanya.

Tradisi pengajaran tentang Jawa dan Indonesia (dulu Melayu) telah dimulai di Leiden sejak 1870-an. ”Dulu, studi Jawa dan Melayu (Indonesia) dipisahkan. Baru tahun ini digabung antara Jawa dan Indonesia,” katanya.
Menurut dia, pada masa kolonial Belanda di Indonesia, orang-orang Belanda yang hendak dikirim ke Jawa harus belajar bahasa dan budaya Jawa. Salah satu tempat penggemblengan itu, yang tertua dan masih bertahan, adalah Universitas Leiden.

”Karena itu, Universitas Leiden masih tetap mempertahankan studi tentang Jawa dan Indonesia,” kata pria yang fasih berbahasa Jawa halus ini.
”Bahasa Jawa halus itu lebih mudah daripada Jawa ngoko. bahasa Jawa halus strukturnya jelas, pakemnya jelas. Tetapi, Jawa ngoko banyak improvisasi, lebih susah dipelajari,” katanya.
Jumlah peminat studi Indonesia dan Jawa di Belanda memang terus mengalami pasang surut. Kondisi perekonomian dan citra Indonesia yang tak kunjung membaik membuat tak banyak mahasiswa Belanda yang berminat belajar tentang Indonesia dibandingkan studi tentang China dan Jepang.

”Tetapi, saya yakin studi Jawa dan Indonesia tetap akan mendapat tempat bagi masyarakat Belanda,” katanya.

Biodata
Nama: Bernard Arps
Karier:- Sejak 1993: Guru Besar Bahasa dan Budaya Jawa dan Indonesia, Fakultas Seni, Universitas Leiden- 2006-2007: Profesor tamu pada Studi Bahasa dan Budaya Asia di University of Michigan- 1988-1993: Pengajar tentang Jawa dan Indonesia di University of London- 1983-1984: Guru musik gamelan di Akademi Muziekpedagogische, Alkmaar
Pendidikan:- D Litt, Leiden University, lulus 1992- MA bidang Bahasa dan Budaya Indonesia Leiden University, 1986- BA bidang Bahasa dan Budaya Indonesia, Leiden University, 1982

Sastrawan Minang Maju Karena Watak "Pemberontak "

Peta sastra Indonesia dari dulu dikuasai orang Minang, karena ada yang membedakannya dengan etnik lain di Indonesia, yaitu watak "pemberontak" dan berpikir merdeka. Begitu juga tokoh-tokoh intelektual asal Minang, mereka memiliki watak yang kukuh dan terang-terangan mengatakan tak setuju dengan penguasa.

Sastrawan dan Ketua Dewan Kesenian Sumatera Barat Dr Harris Effendi Thahar mengemukakan hal itu pada seminar Menumbuhkembangkan Bakat dan Kemauan Menulis Karya Sastra di Minangkabau, dalam rangkaian Pameran Buku Nasional, di Jakarta Convention Centre, Sabtu (15/11).

"Pada masa awal perkembangan sastra Indonesia modern, penulis-penulis sastra terkemuka, tanpa menafikan kehadiran penulis-penulis dari etnis lain-- adalah putra-putra Minangkabau, seperti Sutan Takdir Alisjabana, Hamka, Asrul Sani, dan Chairil Anwar," katanya
Harris menjelaskan, menurut sejarah sastra Indonesia permulaan sastra modern Indonesia ditandai oleh terbitnya roman Sitti Nurbaja karya Marah Rusli tahun 1922 oleh penerbit Balai Pustaka. Roman populer Sitti Nurbaja itu ditulus oleh sastrawan asal Minangkabau. Begitu juga roman Salah Asuhan yang ditulis Abdul Muis, juga orang Minangkabau.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sejarah tradisi sastra Indonesia didominasi oleh sastrawan asal Minangkabau. Keberadaan suku bangsa Minangkabau di tengah-tengah suku-suku bangsa lain di Nusantara secara kuantitatif hanyalah etnis yang kecil saja.

Namun, secara kualitatif merupakan etnis "besar" tersebab perannya yang besar dalam proses pembentukan republik ini. "Kebesaran nama tokoh-tokoh politik masa lalu sebenarnya bersinergi dengan keharuman nama tokoh-tokoh sastrawan pada masa itu. Demikian juga halnya dengan tokoh-tokoh pembaharu pemikiran Islam telah membuat citra orang Minangkabau begitu maju di antara etnis lain," papar Harris yang terkenal dengan cerpennya Si Padang.

Citra itu, lanjut Harris, secara positif menyiratkan bahwa budaya Minang yang egaliter membuat masyarakatnya berani bicara dan berpikir merdeka. Dalam masyarakat egaliter, semua orang Minang sama besar, sama kecil, dan sama-sama bebas (berbicara) berpendapat. Semua orang merasa besar tercermin dari gelar-gelar adat yang dimiliki oleh setiap keluarga dan suku. Tak ada gelar yang berkonotasi "rendah", semua terkesan "tinggi".
Semua orang Minang merasa bangsawan, karena di Ranah Minang ketek dibari namo, gadang dibari gala (kecil diberi nama, besar diberi gelar). Menurut Harris, watak pemberontak atau watak penerabas, kadang dianggap orang lain sebagai melawan arus. Padahal, sebenarnya antikemapanan, inovatif, kreatif, dan kukuh dengan pendirian yang berpegang pada filosofi Minangkabau, "alam terkembang jadi guru".

Kasus-kasus yang dialami oleh tokoh-tokoh kelahiran Minang kita di masa lalu seperti Tan Malaka, Hatta, Hamka, Sjahrir, dan Natsir untuk sekadar menyebut beberapa nama, adalah cermin kekukuhan watak kaum intelektual Minang.

"Tan Malaka terang-terangan mengatakan bahwa dirinya tidak sependapat dengan Soekarno. Hatta konsekuen dengan prinsip negara demokrasi, oleh karena itu ia tidak sudi menjadi wakil presiden terlalu lama tanpa ada ketidakpastian pelaksanaan pemilihan umum.
Hamka dipenjarakan Soekarno dan terang-terangan pula tidak sependapat dengan Soeharto. Demikian juga dengan Sjahrir, tidak tunduk dengan sikap otoriter Soekarno dan menerima risiko disingkirkan. Dan, Natsir yang baru-baru ini diakui kepahlawanannya karena sampai akhir hayatnya tidak sependapat dengan Soeharto.

"Semua tokoh yang disebut itu sekaligus juga merupakan penulis-penulis andal," jelas Harris. Watak "pemberontak" dan berpikir merdeka di kalangan sastrawan asal Minang juga dapat dilihat dari karya-karyanya.

Cerpen Robohnya Surau Kami karya AA Navis menggambarkan betapa AA Navis yang dikenal sebagai "raja cemeeh" itu gerah melihat kejunuban pemahaman sebagian masyarakat terhadap agama. Demikian juga halnya Wisran Hadi yang mempertanyakan kembali kebenaran sejarah perjuangan Imam Bonjol melalui karya dramanya Tuanku Imam Bonjol yang mendapat protes keras dari pemerintah daerah dan masyarakat Sumatera Barat di tahun 1995.
Pemberontakan sastrawan-sastrawan terdahulu seperti Marah Rusli, Abdul Muis, Chairil Anwar, sampai Taufiq Ismail, Hamid Jabbar, Darman Moenir dan Gus ft Sakai yang hidup di abad XXI, terlihat dari karya-karya mereka.

"Iklim budaya egaliter dan antiprimordialisme masyarakat Minangkabau tidak dapat dikesampingkan dalam membentuk watak kepengarangan para sastrawannya. Artinya, tanpa dipupuk pun, ranah Minangkabau tetap melahirkan para penulis bermutu dan sastrawan yang membanggakan, dari zaman ke zaman," katanya.

Tampaknya, sumbangan budaya alam Minangkabau dan keislaman yang dinamis (bukan fanatik) terhadap kelahiran penulis-penulis sastra sejak orang Minang melek huruf, tidak bisa dipungkiri. Akan tetapi bukan berarti sastrawan-sastrawan Indonesia kelahiran Minangkabau sukses tersebab darah etnis, melainkan karena iklim budaya dan iklim keislaman yang terpatri ke dalam ungkapan: "adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah".