Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Maret 2009

"Tersengat" Bebek Goreng Madura


Nasi dan lauk daging bebek yang digoreng dengan gilingan cabai rawit, bawang dan garam. Saat disajikan bebek goreng tersebut berwarna cokelat karena sudah terlebih dahulu dibakar.

Menu makan siang paling cocok di musim hujan mungkin makanan yang berkuah panas dan berasa pedas. Namun ada juga makanan pedas tanpa kuah yang bisa menjadi menu alternatif dalam cuaca dingin. Salah satunya adalah bebek goreng dengan rasa pedas yang ‘menyengat’.

Makanan itu antara lain bisa dijumpai di warung milik suami-istri Achmad Subad dan Satimah di Jalan Ahmad Yani, Pekayon, Bekasi Selatan. Sang empunya menamainya Rumah Makan Ella, tapi pelanggan setianya menamai warung tersebut Warung Bebek Goreng Pekayon.

Bagi warga Jakarta yang ingin mencoba makanan yang beda dari biasanya itu bisa meluncur menuju ke arah Bekasi. Rumah makan tersebut terletak tidak jauh dari Pintu Tol Bekasi Barat. Dari pertigaan Mega Bekasi Hypermall berbelok ke kanan menuju arah Pekayon.

Di warung tersebut menu makanan yang disajikan memang terbilang minimalis. Hanya tersedia nasi dan lauk daging bebek yang digoreng dengan gilingan cabai rawit, bawang dan garam. Saat disajikan bebek goreng tersebut berwarna cokelat karena sudah terlebih dahulu dibakar. Sementara cabai dan bawang yang dicampur dengan bebek bisa dijadikan saus atau sambal.

Meski minimalis, nasi bebek buatan Achmad Subad dan Satimah termasuk banyak penggemarnya. Terbukti setiap hari warung itu selalu dipadati pengunjung.

Dibakar dulu
Ditemui di warungnya belum lama ini, Achmad Subad menuturkan bahwa bebek goreng buatannya berasal dari resep nenek moyangnya di Bangkalan, Madura. Bumbu masak yang digunakan juga terbilang minimalis, hanya cabai rawit, garam, dan bawang, tanpa bumbu penyedap dan semacamnya.

Meski demikian, menurut Satimah, pengolahan bebek goreng buatannya tidak sesederhana bumbu masakan yang digunakan. Bebek sebagai bahan utama masakan dibakar terlebih dahulu dengan kayu bakar. Selanjutnya bebek yang sudah setengah matang itu dipotong-potong dan direbus selama dua jam. ”Setelah direbus baru bebek tersebut digoreng,” ujarnya.

Dikatakan Satimah, saat menggoreng daging bebek tersebut barulah seluruh bumbu dimasukkan, seperti cabe rawit dan bawang yang sudah digiling, serta ditaburi garam. ”Bebek digoreng dengan minyak selama satu jam hingga rasa pedas dan asin tercampur ke dalam daging,” ujarnya.

Kamis, 12 Februari 2009

Makan Enak di Magelang



Persis di pinggir jalan raya Yogyakarta-Magelang, persisnya Km 12, Pabelan, ada rumah makan yang menyajikan menu khusus jamur. Namanya RM Abbii. Meski tergolong masih baru, aneka jamur cepat memikat penyuka makanan. "Baru tahun lalu buka, tapi pengunjung sudah ramai," kata Anni Handari (30), sang pemilik.

Berbagai menu jamur dijajakan di sana, antara lain tongseng jamur, jamur crispi, dan sebagainya. "Jamurnya macam-macam. Ada merang, kancing, kuping, dan yang lain. Kami namakan spesial jamur karena semua masakan yang berbau jamur ada di sini," kata Anni yang mengelola usaha bersama suaminya, Agus Ismail Sapto Widodo (31).

Kata Anni, Sabtu dan Minggu pasti ramai pembeli. "Tempat kami, kan, jalur wisata menuju Candi Borobudur. Sehari bisa habis 20 kg jamur."

Rumah Makan Abbii dibangun bersebelahan dengan toko oleh-oleh. "Nah, untuk memperkenalkan rumah makan ini, kami bekerja sama dengan beberapa teman dari biro wisata. Makanya, dalam waktu singkat cepat maju. Tiap minggu, selalu saja ada pesanan," kata Anni, seraya mengatakan omzet usahanya bila digabung dengan toko oleh-oleh bisa mencapai Rp 80 juta per bulan.

"Rumah makan kami, dari bulan ke bulan terus meningkat. Tanggapan masyarakat memang bagus sekali. Banyak yang komentar, rasa jamurnya seperti daging ayam."

Kerja sama dengan biro wisata memang sangat menjanjikan. Sering mereka dalam satu waktu menerima rombongan yang naik bus. Kalau sudah begitu, tiga juru masak pun masih kurang.

"Soalnya, untuk menu jamur, semua masakan mesti fresh. Dalam waktu dekat, kami akan lebih mengembangkan lagi. Kalau yang datang rombongan, tempatnya sudah tidak cukup lagi," kata Anni yang menjual masakannya rata-rata Rp 7.000 per porsi.

Selasa, 20 Januari 2009

Imlek: Crystal Jade Sajikan Makanan Kaisar China



Bingung cari kue atau makanan untuk merayakan Imlek? Coba datangi gerai Crystal Jade, jaringan restoran dan bakery kelas atas asal Singapura, yang hadir di sejumlah mal besar di Jakarta. Di sana ada kue khas Imlek sampai masakan tempo dulu dari Dinasti Song.

Di jaringan restoran Crystal Jade seperti Crystal Jade Teochew Restaurant, Crystal Jade Palace Restaurant, Crystal Jade La Mian Xiao Long Bao, Anda dapat menemukan kue lobak, aneka kue keranjang, salad ikan mentah, dan makanan untuk kaisar dari Dinasti Song (golden abalone treasure pot). Adapun di jaringan bakery Anda akan menemukan rangkaian cutie cup cake dan bo lo pineapple tart yang khas dan khusus untuk menyemarakkan Imlek.

Treasure pot merupakan masakan yang istimewa. Masakan ini terdiri dari banyak bahan masakan mewah. Kemewahan bahan untuk mengisyaratkan bahwa masa satu tahun telah berlalu dengan sejahtera. Sajian ini istimewa karena cara penyajiannya yang berlapis-lapis berdasarkan bahan masakan yang berbeda dan diolah secara terpisah. Cara menyantapnya pun harus berurut, lapis demi lapis, sesuai dengan lapisan makanan. Mungkin karena berisi bahan masakan mewah dan berlapis-lapis, masakan ini lalu dinamai treasure pot (bejana harta karun).

Biasanya masakan ini dihidangkan pada ritual keagamaan, festival, dan acara-acara istimewa lainnya. Treasure pot tradisional disajikan dalam claypot (belanga tanah liat) ala Jepang. Konon, treasure pot ditemukan pada masa Dinasti Song. Ketika pasukan Mongolia menguasai China, kaisar muda melarikan diri ke wilayah Guangdong dan Hong Kong. Untuk menjamu kaisar dan pasukannya, penduduk setempat mengumpulkan persediaan makanannya, memasaknya, dan menyajikannya dalam mangkuk kayu. Dari sanalah awal mula treasure pot.

Treasure pot Crystal Jade tersedia dalam dua porsi. Porsi besar (untuk 10 orang) seharga Rp 2.888.000 dan porsi kecil (untuk 5 orang) seharga Rp 1.448.000. Makanan ini hanya tersedia di Crystal Jade Palace Restaurant dan Crystal Jade Teochew Restaurant hingga 9 Februari 2009.

Pilihan lain adalah yu-sheng, salad ikan mentah, yang terdiri dari potongan daging ikan (biasanya ikan salmon), dicampur dengan sayuran, bermacam saus, dan rempah. Beberapa bahan untuk yu-sheng adalah wortel, jeruk bali, limau, bubuk merica merah, ubur-ubur, lobak, ubi goreng, jahe merah, jahe, kacang tanah, wijen goreng, keripik renyah, lada, dan saus buatan khusus.

Yu-sheng yang berarti ikan mentah merupakan simbol kehidupan baru dan kesejahteraan. Tradisi menyantapnya yang unik menjadikan momen menyantap yu-sheng tidak terlupakan. Dalam tradisi China, setiap orang berpartisipasi mengaduk yu-sheng, mencapitnya dengan sumpit, lalu melemparkannya ke udara setinggi mungkin dan berteriak, "Lo hei!" Teriakan itu punya makna tekad dan harapan, yaitu kesejahteraan tiada akhir.

Imlek juga identik dengan kue. Kue lobak menjadi salah satu kue tradisional Imlek. Kue berbentuk bulat nan lezat ini berisi conpoy dan sosis ayam.

Crystal Jade juga menyediakan dua jenis kue keranjang khas Imlek yang berbahan ketan dan dicampur gula merah, yaitu kue keranjang bungkus emas dan kue keranjang ikan mas. Dua jenis kue ini dapat disajikan sebagai bagian dari rangkaian acara Imlek hingga malam Cap Go Meh.

Sementara itu, di jaringan bakery Crystal Jade, yaitu Crystal Jade My Bread, Anda akan menemukan rangkaian cutie cup cake dan bo lo pinneapple tart. Serial cutie cup cake berukuran mini dan tersedia dalam rasa vanila dan cokelat dengan toping gula. Didesainnya bernuansa Imlek, unik, menggemaskan, dan indah dilihat.

Bo lo pineapple tart merupakan jamuan yang selalu ada pada saat Imlek. Bo lo pineapple tart diproduksi secara hand-made dan dipanggang fresh-sempurna, dihiasi lapisan luar renyah keemasan, mirip buah nanas. Bo lo artinya buah nanas. Di Hongkong, kue yang paling populer disebut bo lo bun dengan isi nanas yang cocok untuk cita rasa Hongkong.*

Kamis, 08 Januari 2009

Bakpia Cappucino, Sukses Tanpa Angka


Jika sowan ke Yogya, pastilah bakpia menduduki urutan teratas dari daftar oleh-oleh yang harus Anda bawa pulang. Memang, sejak belasan tahun, bakpia sudah menjadi salah satu item oleh-oleh wajib. Namun kali ini Yogya menawarkan bakpia yang berbeda dari biasanya.

Adalah kawasan Pathok, sebelah barat Jalan Malioboro, yang dikenal sebagai pusat industri bakpia. Uniknya, setiap industri rumahan ini selalu memberi label angka di setiap produknya, diambil dari nomor rumah tempat bakpia tersebut diproduksi. Terciptalah Bakpia 25, 75, hingga 175 yang terkenal itu.Seiring waktu, persaingan kian marak. Masing-masing mencoba memberi sentuhan baru dan kualitas yang berbeda agar bisa tetap digandrungi pasar.

Belakangan, tepatnya tahun 2004, muncul Bakpia & Pia. "Sebenarnya ini bisnis keluarga. Tadinya mama saya iseng-iseng, karena ada kursus membuat bakpia, terus dikembangkan sendiri," ujar Marizna (25), putri dari pemilik Bakpia & Pia, Rasuna Z ketika ditemui di tokonya di kawasan Dagen, Malioboro, Yogyakarta.

Dari hanya membuka "toko" di rumah keluarga, di kawasan Wates, kini Marizna memiliki 18 karyawan di dua cabang di Yogyakarta. Bahkan, produknya sudah masuk pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia.

Sekilas, penampilan Bakpia & Pia tak terlalu berbeda. Perbedaan terletak di jenis yang ditawarkan. "Pia itu seperti bakpia spesial. Isinya kacang hijau tapi diisi lagi. Jadi, ada dua isian. Kacang hijaunya berbeda juga dari yang biasa. Bentuknya juga beda, bulat dan lebih besar," tutur gadis yang akrab disapa Rizna ini.

Alhasil, dari kemampuan meracik dua jenis isian, dibuatlah pia dengan enam jenis rasa, yaitu durian, nanas, kacang hijau, cokelat, keju, dan cappuccino. Harganya pun relatif lebih murah dari rata-rata harga bakpia keluaran Pathok. "Dulu, modalnya hanya Rp 5 juta. Sekarang, alhamdulilah keuntungannya sudah berkali-kali lipat." Dari 300-500 kotak yang diproduksi per hari, rata-rata setiap harinya hanya tersisa sedikit dan biasanya untuk besoknya langsung habis.

Bagaimana dengan kemasan? Jika selama ini bakpia dikemas dengan kotak yang rata-rata bernuansa seragam, lengkap dengan angka-angka, yang ini menyuguhkan kemasan unik dan berbeda. "Kebetulan, ayah saya, Zuhad, yang mendesain kotak. Sengaja kami masukkan logo Tugu dan motif batik sebagai ciri khas Yogya," kata Rizna.

Jadi, tanpa angka pun, tetap laris-manis. (Yeta Angelina/Nova)

Alamat :
Bakpia & Pia ,
Waroeng Ngangeni, Jln. Dagen No.7, Yogyakarta
Telp. 0274-7442846.

Monggo, Coklat Unik Dari Yogya


Ada cokelat unik di Yogyakarta buatan pria bule. Namanya, Cokelat Monggo. Rasanya pas, kemasannya pun sangat khas Kota Gudeg.

Awal kisahnya, di tahun 2001, seorang pria asing asal Belgia bernama Thierry Detournay, berkunjung ke Yogya. Sebagai warga Belgia yang doyan cokelat berkualitas tinggi, Thierry kesulitan mencari cokelat yang memenuhi seleranya.

Mulailah Thierry membuat cokelat. Dari jenis truffle sampai cokelat-cokelat kecil. "Teman-teman bilang, cokelat buatan saya enak dan belum pernah mencoba cokelat seperti itu. Di Belgia, saya pernah ikut pelatihan meracik cokelat dengan ahlinya," ujar Thiery yang fasih berbahasa Indonesia.

Belakangan, ia bertemu Edward Riando Picasauw alias Edo dan sepakat menekuni bisnis cokelat. "Modalnya cuma Rp 150 juta," kenangnya. Mereka sempat berjualan pakai Vespa di halaman gereja sebelum akhirnya membuka toko.

Tak disangka, jualan mereka laku. "Akhirnya kami bikin CV Anugerah Mulia dan memakai label Cokelat Monggo." Nama itu sengaja dipilih karena gampang diingat dan sangat familiar untuk masyarakat Indonesia.

Konsep memadukan cita rasa Barat dan Timur itu ternyata sukses dijalankan Thierry dan Edo. Salah satu produk unggulan Cokelat Monggo adalah Dark Chocolate.

"Kami menggunakan 58 % kokoa tanpa campuran minyak nabati, supaya rasanya benar-benar cokelat." Aneka variasi pun dibuat. Salah satunya praline yang diberi kacang mete karena di sini susah mendapatkan hazelnut atau walnut.

Ayah satu putri ini memastikan, kualitas cokelat racikannya tidak kalah bersaing dengan yang asal Eropa, yang terkenal sangat nikmat. "Kami bikin tanpa bahan pengawet, semua alami. Prosesnya juga berbeda. Tidak semua orang bisa melakukan."

Saat ini, setiap hari Thierry dibantu 55 karyawan dan bisa memproduksi hingga 1.000 buah cokelat, baik untuk bentuk batangan maupun kemasan khusus. Semua adonan masih dikerjakan sendiri oleh pria yang menikah dengan wanita asal Solo tersebut.

Proses pengerjaan masih dilakukan Thierry dengan cara manual. Semua cokelat diproduksi di sebuah rumah kecil di kawasan Kotagede. Keunikan lain dari kreasi Thiery terletak pada kemasannya. Mengusung konsep eco-friendly, cokelat dikemas dengan kertas daur ulang berdesain khas.

"Kami punya desainer grafis sendiri. Konsepnya sederhana, mungkin karena Yogya sekali. Kalau di Jakarta, kemasannya lebih mewah sementara untuk pasar Bali, gambarnya penari Bali," ujar Thiery yang juga menerima pesanan khusus semisal untuk suvenir pernikahan, Natal atau Valentine

Sensasi Sup Dalam Batok Kelapa


Wilayah China yang luas dan budayanya yang beragam menyimpan tradisi kuliner yang kaya. Masakan Kanton, misalnya, yang sudah sangat populer di sini hanya mewakili salah satu tradisi kuliner dari negeri tirai bambu itu.

Di penghujung tahun lalu, Crystal Jade Culinary Concepts Holdings, jaringan restoran asal Singapura yang telah merambah sejumlah kota besar di Asia, memperkenalkan restoran terbarunya yang khusus menyajikan masakan asli Teochew dari Kota Chaozhou di Provinsi Guangdong, China. Masakan Teochew terkenal lezat terutama untuk masakan seafood dan vegetarian. Dibanding masakan Kanton, masakan Teochew lebih ringan. Keaslian rasa bahan sangat diutamakan. Demi memenuhi standar itu maka bahan-bahan yang digunakan harus segar dan alamiah. Stela To, special assistant to managing director Crystal Jade, mengatakan, masakan Teochew tidak banyak polesan. Makanan menyuguhkan rasa apa adanya berdasarkan bahan-bahan yang digunakan.

Crystal Jade Toechew Restaurant berlokasi di Pacific Place di Sudirman Central Business District, Jakarta Selatan. Ini merupakan restoran ke 9 dari Crystal Jade Culinary Concepts Holdings di Jakarta. Sejak buka cabang pertama tahun 2007, jaringan restoran yang menyasar masyarakat kelas atas ini secara agresif terus menambah cabangnya. Stella To mengemukakan, Crystal Jade Teochew Restaurant merupakan konversi dari restoran Crystal Jade sebelumnya di lokasi itu yang dibuka pada November 2007. Namun restoran yang sekarang telah direnovasi, luasnya ditambah dan dilengkapi lima private room.

Di salah satu private room itulah saya beberapa waktu lalu mencicipi aneka masakan Teochew. Makanan pembuka saya adalah baso udang goreng, baso kepiting goreng, dan tim ayam yang dibungkus dengan putih telur. Baso udang berisi aneka sayuran antara lain potongan bengkoang dan tentu saja udang. Sayur-sayuran dalam bakso terasa sangat segar.

Suguhan berikutnya, bagi saya sangat sensasional dan memperlihatkan kreativitas yang tinggi, yaitu sup seafood dalam batok kelapa. Kuah sup mengepul dari dalam batok kelapa berukuran mini yang katanya khusus didatangkan dari Thailand. Di 'mangkuk' sup itu terdapat daging kepiting yang pada salah satu bagiannya masih menyatu dengan cangkang. Cangkang tersebut sesungguhnya berfungsi sebagai pegangan, semacam lidi ketika Anda menyatap sate. Selain kepiting, sup itu berisi jamur shiitake hitam, daun sawi dan aneka rempah. Tentu saja Anda pun bisa menikmati daging kelapa yang lembut dan kenyal.

Sup ini, dalam tradisi Teochew, selain untuk memenuhi selera, dan punya kandungan gizi bagus buat kesehatan fisik, juga berperan sebagai yin yang mendinginkan, menyegarkan, dan merelaksasi orang yang sedang jenuh, stres, atau 'gerah' dengan kehidupan.

Menu berikutnya adalah irisan angsa ala Wuisang, tim ikan malas, dan bubur daging ayam cincang. Baru kali ini saya mencicipi daging angsa. Bagi saya, rasanya aneh. Irisan angsa ala Wuisang yang diasinkan ini merupakan makan favorit dan dicari-cari orang di Chaozhou dan Hongkong.

Ketika menyajikan bubur daging ayam cincang, seorang koki yang khusus didatangkan dari Hong Kong, memeragakan cara membuat bubur tersebut. Sekilas, bubur daging ayam cincang ini mirip soto kudus. Dalam proses pembuatannya, si koki pertama kali memanaskan kaldu. Nasi dan daging ayam cincang kemudian di masukan ke dalam kaldu sambil terus dipanaskan dan diaduk-aduk sekitar dua menit, lalu disajikan.

Sebagai makanan penutup, saya menikmati bubur talas hangat dan lembut berisi yang kacang gingko. Rasa manisnya pas dan tidak bikin enek. Benar-benar sajian penutup yang hebat.


Alamat:
Crystal Jade Teochew Restaurant
Pacific Place, Lantai 4 Unit 02
Jalan Jenderal Sudirman Kav 52-53
Jakarta Selatan
Telepon 021 - 51400437

Sabtu, 06 Desember 2008

Omzet Kue Khas Betawi Meningkat Jelang Idul Adha


ROTI BUAYA - Salah satu makanan khas Betawi yang banyak dipesan menjelang Idhul Adha.


JAKARTA -- Sejumlah penjual kue khas betawi menjelang hari Raya Idul Adha 1429 H mengaku omzet penghasilan mereka meningkat karena banyaknya pesanan dari masyarakat Jakarta khususnya warga Betawi.

Seorang pemilik kios makanan betawi di Condet, Jakarta Timur Khadijah (56) Rabu mengemukakan, dalam waktu dua minggu terakhir menjelang Idul Adha sering menerima pesanan karena masyarakat Betawi banyak yang mengadakan hajatan atau acara syukuran keluarga.

Beberapa jenis kue yang laris seperti kue geplak, sagon, kembang goyang, kue satu, biji ketapang, dan roti buaya.
Jenis kue ini selalu dipesan masyarakat Betawi yang ingin mengadakan hajatan syukuran saat menjelang Idul Adha. Omzet yang bisa diraih bisa mencapai Rp300 ribu perhari sementara menjelang Idul Adha meningkat sebesar Rp1, 5 juta sampai Rp2,5 juta per hari.

"Sudah jadi tradisi mungkin jelang atau pas Lebaran haji banyak masyarakat Betawi yang memesan kue untuk pelengkap acara syukuran keluarganya seperti pengajian habis pulang dari Mekkah," tutur Khadijah.

Ia menjelaskan beberapa jenis kue yang dijualnya beraneka ragam harga dan jenis ukuran dan berat. Misalkan kue satu dijual Rp35 ribu/bungkus. Kue geplak dan kue kembang goyang dijual Rp25 ribu-Rp40 ribu/bungkus. Kue sagon dan serabi Rp35 ribu-Rp40 ribu/bungkus. Sementara roti buaya Rp5 ribu sampai Rp50 ribu.

Khadijah menambahkan masyarakat Betawi di Jakarta yang sering memesan dari daerah Pasar Minggu, Kwitang, Srengseng Sawah, dan Meruya. "Alhamdulilah beberapa orang Bekasi juga ada yang memesan untuk merayakan Lebaran haji bersama anak-anak yatim," tambahnya.

Hal senada dikatakan pemilik kios makanan khas Betawi bernama UD Sinta di Kampung Dukuh, Jakarta Timur Qubil AJ (43). Qubil menuturkan per hari menjelang Idul Adha ia bisa memproduksi 200 bungkus/stoples kue Betawi seperti kue satu, serabi, biji ketapang, dan sagon.

Menurut Qubil, kue yang paling sering diminta oleh masyarakat saat ini adalah roti buaya. Selain untuk pelengkap acara pernikahan masyarakat Betawi, roti buaya juga bisa dikonsumsi di berbagai acara.

"Jenis kue roti buaya saat ini banyak peminatnya karena sudah identik dengan warga Betawi. Mereka biasanya memesan kue roti buaya yang berukuran besar bila ada anggota keluarganya pulang dari Mekkah," ungkap Qubil yang juga seorang pemain sinetron ini.

Qubil yang memulai usahanya sejak dua tahun lalu mengaku omzet yang diraih saat ini Rp400 ribu per hari sementara kalau untuk saat Idul Adha bisa mencapai sekitar Rp2,5 juta perhari.

"Kalau saat ini masih biasa peningkatannya. Jelang tiga hari Idul Adha permintaan masyarakat biasanya cukup besar seperti tahun lalu," aku Qubil. - ant/ah

Jumat, 05 Desember 2008

Soto Betawi Rasa Tegal



Melintas di Jalan KS Tubun, Petamburan, Jakarta Pusat, di atas pukul 21.00 dengan perut keroncongan, Warta Kota memutuskan berhenti di warung Soto Betawi Haji Umar Idris. Warung ini terletak tak jauh dari Hotel Santika. Dari arah Tanahabang, warung ini ada di sisi kiri atau berseberangan dengan Hotel Santika (sekitar 100 m dari hotel itu).

Rintik hujan yang turun sejak siang menciptakan hawa dingin yang pas ketika tenggorokan diguyur semangkuk soto betawi dengan asap mengepul. Kebetulan ada beberapa pelanggan yang juga mengisi perut di kedai ini. Ketika Warta Kota masuk dan memilih kursi, pelayan memberi tahu bahwa pengunjung bisa langsung memilih pesanan di meja yang disediakan.

Ini barangkali uniknya. Di tempat lain pelanggan tinggal pesan isi soto betawi, misalnya campur atau daging saja, dan tinggal menunggu pesanan tiba di meja. Beda dengan warung ini. Pengunjung harus langsung memilih sendiri isi soto. Misalnya soto betawi isi daging (sapi) saja, maka pilihlah potongan daging sapi yang ada. Atau jika ingin campur jeroan, daging, dan babat, ya pilih sendiri. Seberapa banyak, terserah yang akan menyantap.

Hitungan porsi di warung ini ditentukan sendiri oleh pelanggan, yaitu berapa potong daging atau jeroan yang ingin dimakan. Sepotong kecil daging, jeroan, atau babat, dipatok seharga Rp 2.000.

Setelah meletakkan daging atau jeroan terpilih pada mangkuk, pelayan akan mengiris daging atau jeroan tadi menjadi potongan kecil-kecil. Taburan bumbu beterbangan di atas mangkuk untuk kemudian mangkuk itu diguyur kuah plus perasan jeruk limau, emping, daun seledri.

Jangan heran, memang ini sejatinya adalah soto ala Umar atau di masa lampau lebih beken dengan nama Soto Umar. Entah bagaimana, seiring perjalanan waktu soto ini menyandang nama soto betawi. Ini bukanlah soto betawi seperti yang biasa kita temui. Kuahnya encer, berwarna pucat, di dalamnya tak terdapat irisan tomat, kentang, ataupun bawang daun.

Enggak enek

Tak berhenti di situ, sambal yang jadi teman soto juga berbeda. Jika pada soto betawi biasanya sambal dibikin encer dengan warna merah pucat dan rasa pedas yang langsung nendang saraf perasa, maka di warung ini sambal lebih kental, warna lebih gelap dengan rasa yang terbilang manis. Bisa dibilang, rasa pedasnya terlalu ‘sopan’.

Bagi penggemar warna gelap dan manis, tambahkan kecap ke dalam soto sebelum menyantap. Pada suapan pertama, langsung terasa beda soto ini dengan soto betawi lainnya. Terasa gurih meski encer. Terkadang terasa seperti paduan sop dan soto dengan kuah yang kekentalannya juga tak ‘menakutkan’. Yang pasti, menu ini sungguh pas di cuaca apa pun. Seorang rekan bahkan menyeruput kuah soto ini hingga tandas. ”Enggak enek, encer lagi,” katanya.

Menurut Santo, Juriman, dan Wahyu, yang melayani pelanggan di malam hari, warung ini buka setiap hari mulai pukul 08.00 pagi hingga pukul 04.00 dini hari. ”Tiap hari paling rame jam makan siang, sekitar pukul 11.00 sampai pukul 13.00. Tapi sampai malem bahkan pagi, ada aja yang makan di sini,” kata Wahyu yang diamini kedua rekannya, semua dengan logat Tegal yang kental.

Lantas kenapa kuah sotonya begitu gurih dan berbeda dari soto betawi yang lain? ”Ya, memang beda. Kita kan pake susu. Ini resepnya turunan dari Haji Umar Idris almarhum. Kita juga enggak pake tomat, kentang, dan daun bawang. Kita cuma pake daun seledri dan emping,” ujar Wahyu.

Sayang putra almarhum Haji Umar Idris yang melanjutkan bisnis ini, Budi Hanurawanto Umar, sedang pulang ke kampungnya di Tegal, Jawa Tengah, saat Warta Kota mampir ke kedainya.

Tidak Pakai Sistem Paket

Dihubungi dari Jakarta, Budi Hanurawanto Umar yang tengah berada di Tegal menjelaskan, ayahnya, Haji Umar Idris (alm) memulai bisnis ini tahun 1969 di Sabang, Jakarta Pusat. ”Dulu masih pake tenda. Awalnya Bapak cuma jual ketan, goreng-gorengan. Tapi melihat peminatnya kok banyak, trus Bapak mulai jual soto. Tapi ini dulu memang bukan soto betawi. Ini disebut Soto Umar karena memang beda dengan soto betawi. Beda rasanya karena ini memang resep sendiri,” papar ayah dua putra ini.

Sekitar tahun 1975, posisi warung tenda bergeser sedikit tapi masih di Sabang. Baru pada 1999 warung ini pindah ke kedai di Jalan KS Tubun. ”Sekarang memang enggak pake tenda lagi tapi itu juga masih kontrak,” kata Budi.

Entah bagaimana, kemudian nama Soto Umar berubah menjadi Soto Betawi Haji Umar Idris. ”Mungkin pengaruh tempat dan zaman, enggak tau juga. Tapi soto ini memang beda rasanya dengan soto betawi. Kuah soto kita memang encer karena campuran santan dan susu,” tutur Budi.

Sejak awal sistem pemesanannya juga beda, pelanggan memilih sendiri apa yang akan dimakan. ”Istilahnya saya enggak pake sistem paket seperti yang lain. Kita hitung per potong. Tapi kalau mau seperti itu, paket campur atau daging, kita yang pilihin juga bisa,” kata Budi lagi.

Mau Tahu Teori Nasi Goreng?



ALMARHUM Umar Kayam dengan jenakanya pernah berteori soal resep nasi goreng yang dijamin enak.

"Begini, lho. Nasi itu mesti digoreng sama jlantah (minyak bekas menggoreng lauk), jangan mertego (mentega). Sambelnya diulek pake trasi yang sedep. Pokoknya bumbunya itu semangkin mbleketek dari dapur sendiri semakin enak,” begitu tulis Kayam dalam ”Teori Nasi Goreng”, salah satu dari kumpulan tulisannya pada buku Mangan Ora Mangan Kumpul (Pustaka Utama Grafiti, 1990).

Setiap rumah tangga pun bisa punya resep nasi goreng tersendiri. Bahkan, ada yang ditambahi kluwek, atau mungkin juga minyak jelantah seperti Kayam.

Nasi goreng pun menjadi penyelamat ketika di restoran kita bingung memilih masakan apa. Makan nasi goreng tak ada aturan waktu. Pagi, siang, malam, cocok-cocok saja.

Setiap orang punya selera masing-masing soal nasi goreng. Soal mentega, yang disinggung oleh Umar Kayam, tampaknya dicomot dari anggapan umum. Memang banyak orang yang menganggap, nasi goreng beraroma mentega lebih menerbitkan air liur. Seperti Nasi Goreng Strawberry di Cafe Strawberry di Gandaria, Jakarta Selatan. Pada tahap akhir menggoreng, nasi ditambah margarin untuk menambah kegurihan.

Namun, mentega tak selamanya kunci kegurihan nasi goreng. Banyak cara menjadikan nasgor gurih dan memikat.

William Wongso, pakar kuliner, mengatakan, tidak ada bumbu standar nasi goreng. Bumbu apa pun yang bisa ditumis, sah-sah saja dipakai untuk membumbui nasi goreng. Oleh karena itu, tambahnya, setiap daerah punya resep nasi goreng sendiri dengan memanfaatkan bumbu khasnya.

Begitu pula di negara lain. Nasi goreng ala China, menurut William, biasanya berbumbu bawang putih dan kecap asin. Jika nasgornya kemerahan, biasanya dengan saus hoi sin. Sementara nasi goreng Jepang biasanya cenderung polos, hanya bawang putih, telur, dan kecap kikoman.

Di Thailand, nasi goreng dicampur dengan potongan nanas dan berbumbu sereh. Di Vietnam, daun mengkudu muda dirajang halus untuk bumbu nasi goreng bersama bumbu kuning seperti kunyit, bawang merah, dan bawang putih.

Di Indonesia, yang memiliki kekayaan kuliner luar biasa, nasi goreng pun beradaptasi dengan berbagai suku lalu mewujud menjadi nasgor yang beraneka macam. Bumbu rendang sampai bumbu rawon pun bisa menjadi bumbu nasi goreng, masih kata William.

Siapa sih yang tak kenal Nasi Goreng Kambing (biasa disingkat NGK) Kebon Sirih di Jakarta Pusat? Nasi goreng ini khas karena menggunakan minyak samin untuk menggoreng. Aromanya sangat khas. Aroma khas daging kambing berduet sempurna dengan aroma minyak samin.

Tak harus nasi dingin

Nasi yang digunakan untuk bahan nasi goreng saat ini tak lagi nasi sisa sehari sebelumnya. Namun, seperti sebuah kesepakatan, nasi goreng yang dijual di berbagai kedai hingga restoran banyak yang berbahan baku nasi baru yang didinginkan. Tujuannya supaya nasi goreng tidak lembek.

Padahal, tak harus demikian. Nasi goreng Aceh di Rumah Makan Seulawah yang agak lembab justru sangat nikmat dan pulen. Ratna Dwikora, pemilik Seulawah, mengatakan, nasi yang digoreng memang nasi panas, yang ditanak dengan air lebih sedikit dari nasi biasa.

Nasgor Aceh menjadi contoh kedahsyatan nasgor dari Indonesia. Dengan belasan macam rempah, seperti jinten, cengkeh, peka, dan biji kaskas, membuat nasi goreng ini bikin ketagihan. Apalagi ditemani dengan secangkir kopi Acehnya. Duh.... (SF)


Sumber kompas

Kamis, 20 November 2008

Gulali&Arum Manis Dari Masa Lalu


Permen, kembang gula, atau bonbon adalah camilan berbasis gula yang tak lekang oleh waktu dan tak pernah kehilangan penggemar. Dari anak-anak hingga orangtua sering kali tak mampu menghindari daya tarik kembang gula yang sangat menggoda. Kembang gula terus berkembang, termasuk dalam hal rasa. Kembang gula juga bisa dibilang sebagai penganan universal. Semua bangsa mengenalnya dalam berbagai bentuk. Kembang gula adalah lambang kegembiraan.
Tentang pembuat kembang gula yang membawa keceriaan digambarkan almarhum Samuel George Davis Jr, atau lebih dikenal sebagai Sammy Davis Jr, dalam Candy Man. Lagu inipun mendunia. Jenis kembang gula yang di masa lalu mudah ditemui di pasar malam atau di depan gerbang SD atau SMP tak lain adalah arum manis dan gulali.
Kedua jenis penganan ini berbahan dasar sama, gula pasir, namun diolah berbeda dan akhirnya menjadi bentuk yang berbeda pula. Arum manis di negeri ini — disebut cotton candy atau fairy floss di belahan bumi lain — adalah gula pasir yang diberi pewarna makanan kemudian dipanaskan sambil diputar.
Saat berputar, bilah bambu kecil ikut dalam putaran itu untuk menjaring ampas dari gula yang 'pecah' dan menjadi seperti kapas yang disangga dengan bilah bambu tadi. Barangkali banyak yang belum tahu, bahwa kembang gula kapas ini sebenarnya sudah dikenal bangsa Italia sejak sekitar abad ke-15. Pada abad ke-19, pembuat kembang gula William Morrison dan John C Wharton menciptakan mesin peleleh gula pasir menggunakan gaya sentrifugal untuk mendorong penciptaan kapas-kapas gula.
Selain arum manis, gulali adalah makanan serba gula yang mengingatkan kita pada masa kanak-kanak. Gulali lebih mirip lolipop, meski tentu dengan rasa yang berbeda. Gulali 100 persen terbuat dari gula pasir yang dilelehkan dalam wajan besar dan kemudian dijual menggunakan wajan kecil, dibawa berkeliling dengan pikulan. Penjual bisa membuat gulali menjadi bentuk apa pun, seperti pesawat terbang, bebek, bunga, dan lainnya. Perbaiki mesin Di Jakarta dan sekitarnya, sudah sulit menemukan kedua jenis kembang gula tadi.
Beruntung, akhir pekan lalu, Warta Kota menemukan dua pedagang kembang gula itu di halaman Taman Fatahillah, Jakarta Barat. Mereka ikut dalam acara Atraksi Wisata Kota Tua (AWKT) 2008. Meski kedua pedagang, yakni Salim dan Dadang, bukanlah pedagang yang turun-temurun, setidaknya mereka menjual cemilan masa lalu yang sudah dikenal orang secara turun-temurun.
Salim, pedagang arum manis, sehari-hari masih bisa ditemui di depan sekolah Marsudirini, Matraman, Jakarta Timur. Satu bungkus arum manis dijual Rp 2.000. Rasa manis dengan tekstur lembut langsung menari-nari di lidah. Sebuah rasa dari masa lalu. Pria asal Bumiayu, Jawa Tengah, ini memang belum lama berdagang arum manis tradisional. Ia baru memulai sekitar empat tahun lalu, sepulang dari Papua sebagai buruh bangunan. Tapi karena keahlian di bidang listrik, maka sepulang dari Papua ia memperbaiki cara kerja mesin pembuat arum manis lantas berdagang menggunakan mesin ala Salim.
Sementara itu Dadang, asal Garut, sudah berdagang gulali selama lima tahun. Sehari-hari ia mangkal di TK Al Abidin, Pondokbambu. "Makanan begini biasanya yang suka, ya anak-anak. Kadang-kadang juga orang dewasa," katanya. Meski tidak ada pendahulunya yang berdagang gulali, ia tahu betul gulali adalah makanan tempo dulu yang juga biasa ia makan di waktu kecil. Selamat bernostalgia!

Minggu, 16 November 2008

Mencintai Kopi Dengan Hati

Di tengah derasnya gempuran warung kopi internasional di Indonesia, kehadiran Anomali Coffee serasa memberikan angin sejuk untuk
mempertahankan keberadaan kopi anak negeri.

Anda tidak akan menemukan warung kopi ini di mal, tetapi di sebuah bangunan sederhana berlantai dua di pinggiran jalan Senopati, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tidak ada yang mencolok dari warung kopi yang digawangi Agam dan Irvan itu, kecuali papan nama kecil yang mudah membuat orang melewatkannya.

Saya pun nggak 'ngeh' saat mencari Anomali, sehingga harus menyisiri kembali jalan Senopati untuk menemukannya. Kami datang menjelang petang, waktu yang pas untuk menikmati kopi sambil bercengkerama dengan teman.
Dengan konsep gudang kopi yang cozy, membuat saya betah berlama-lama. Di ruangan yang berdinding bata merah saya bisa melihat keseluruhan proses pembuatan kopi, mulai dari biji kopi mentah hingga menjadi bubuk.

"Biji kopi yang disajikan di adalah Freshly Roasted Beans sehingga karakteristik rasa dari biji-biji kopi tersebut selalu terjaga dalam kondisi maksimal," terang Irvan yang memanggang sendiri biji-biji kopi ini.

Setiap minggunya, ia dan Agam memanggang dua kilo biji kopi mentah dari setiap jenis kopi yang berbeda. Ada tujuh jenis kopi Arabika yang disajikan. Java Jampit, Toraja Kalosi, Aceh Gayo Organik, Sumatera Lintong, Sumatera Mandailing, Bali Kintamani dan Papua Wamena. Semuanya dengan kualitas premium (dihasilkan dari panenan yang sama, spesies dan ukuran yang sama).

Bukan tanpa alasan kedua sahabat ini memilih lebih Arabika ketimbang Robusta. Arabika adalah primadona di dunia perkopian karena kualitasnya yang superior disamping kandungan kafeinnya lebih rendah daripada Robusta.

"Kami ingin kopi Arabika Indonesia bisa bersaing dengan kopi sejenis di dunia. Setelah ini sukses, baru kami akan mempromosikan kopi Robusta," imbuh Agam.
Memanggang biji kopi dengan baik juga bukan perkara gampang. Butuh waktu tiga bulan untuk menghasilkan kualitas kopi yang premium. Irvan lalu bercerita, saat pertama memanggang di mesin Coffe Roaster yang khusus didatangkan dari Turki, seluruh biji kopi yang ia panggang gosong. "Asap yang keluar juga banyak banget sampai ke jalan, jadi dikira kebakaraan," aku Irvan.

Terbukti usaha keras keduanya tidak sia-sia. Anomali Coffee kini menjadi alternatif bagi para penikmat kopi Indonesia. Setiap hari, apalagi weekend, pengunjung harus rela mengantri agar bisa menikmati aneka sajian kopi di gerai yang dibuka pada Juli 2007.
Untuk memanggangnya, dibutuhkan waktu selama 12-15 menit dengan suhu sekitar 185-195 derajat Celcius, kopi didinginkan dan dimasukkan ke dalam freezer selama satu hari. Hal ini untuk menghilangkan minyak yang dihasilkan dari panggangan dan kesegaran kopi tetap terjaga. Barulah biji-biji kopi yang sudah matang ini siap dijadikan bubuk kopi yang bisa bertahan selama tiga bulan.

Penasaran, saya mencoba kopi terbaru, Wamena Coffee. Konon kopi ini berasal dari benih kopi serupa dengan Jamaica Blue Mountain Coffee, one of the best coffee in the world.
Well, saya memang belum pernah merasakan si hitam dari Blue Mountain, tetapi saya akui kopi Wamena ini memang lain, sangat spesial. Tidak terlalu kental, tidak terlalu pahit dan juga meninggalkan after taste rasa asam yang lembut. Berbeda dengan kopi Toraja atau Sumatra yang lebih kental dan strong, meski keduanya sama-sama sedap.

Bagi yang tidak suka rasa original, ada banyak pilihan. Black Forrest Latte (campuran antara Anomali Espresso Blend, susu, sirup coklat dan rasberry), Orange Honey Kissed (campuran antara Anomali Espresso Blend, susu, orange peel dan madu) atau Crème Brule (campuran antara Anomali Espresso Blend, vanilla, susu).

Sebagai pendamping minuman kopi-kopi yang nikmat ini, ada berbagai jenis makanan. Turkey Cranberry Sandwich (pilihan roti ciabatta atau foccacia dengan irisan daging kalkun, sayuran diolesi dengan cranberry sauce dan mayonnaise), Anomali Club Sandwich ( pilihan roti toasted double decker white bread atau whole wheat dengan irisan daging kalkun, beef bacon, sayuran diolesi dengan mayonnaise), Chocolate Melt Cupcake atau Lemon Cupcake.
Tak terasa malam mulai menjelang. Saya pun harus menyudahi obrolan ngalor ngidul saya dengan Agam dan Irvan, dua anak muda yang mencintai kopi dengan hati....

Jagoan dari Menteng Pulo, Asinan Betawi Jembatan Merah

Begitu mendengar nama Menteng Pulo, kebanyakan orang langsung menyebut kuburan sebagai hal pertama yang diingat. Kuburan taman yang tertata rapi itu adalah kuburan milik Belanda bernama Ereveld Menteng Pulo. Maka jangan heran jika sejak berdirinya taman pemakaman ini Menteng Pulo dikenal sebagai kawasan seram, apalagi semula orang menganggap yang terkubur di pemakaman itu semua orang Belanda. Padahal ada warga pribumi, dan Tionghoa yang juga tertanam di sana.

Padahal selain yang seram-seram itu, kawasan ini juga menyimpan makanan tradisional yang sudah ada setengah abad lamanya.
Tepatnya persis di seberang Jalan Menteng Pulo, ada gang bernama Gang Sadar. Di mulut gang ini setiap hari nangkring pedagang asinan Betawi. Asinan ini kini sudah memasuki generasi ketiga. Berawal dari sang kakek yang asli Betawi, berkeliling menjajakan asinan pikulan hingga ke seputaran Jalan Dr Satrio di masa kini.Setelah lelah memikul dagangan, tongkat estafet diserahkan ke generasi kedua yang sebentar berjualan dengan pikulan untuk kemudian memilih mangkal di kawasan Menteng Pulo. "Saya enggak tau kalau ditanya tahun berapa. Tapi udah lama, dari sejak kakek," ujar Anih, generasi ketiga asinan Betawi ini.Sayangnya, baik Anih maupun Inah, sang adik, sama sekali tak ingat nama ayahnya, penerus kedua, apalagi nama sang kakek. "Udah enggak ada semua. Saya enggak tau namanya siapa," tegas Inah, yang diamini Anih. Asinan Betawi yang satu ini masih dijajakan menggunakan pikulan meski mangkal.

Biasanya, orang membeli asinan ini untuk dibawa pulang karena memang tak ada tempat tersisa bagi mereka yang ingin menyantap asinan segar ini di sini. Karena berada di gang sempit, maka pembeli dan pedagang harus selalu bersenggolan dengan pengendara motor dari dan ke gang ini.

Asinan seharga Rp 7.000 per porsi ini dibungkus dengan daun pisang sehingga menambah aroma. Isinya, taoge dan kol ditambah sawi china, tahu, dan timun yang sudah direndam air cabai dan cuka. Setelah itu, kacang tanah goreng ditebar kemudian diguyur lelehan gula jawa, sambal (jika mau), plus sedikit garam. Setelah itu kuah cuka dan sambal ditambahkan ke adonan itu. Terakhir, kerupuk kampung berwarna merah disebar. Jika mau, bisa ditambah kerupuk mi berwarna kuning. Harganya Rp 2.000 per kerupuk.

Sebelum menyantap asinan ini, aduk semua sampai rata. Maka rasa sebenarnya akan langsung menyentak lidah. Asam, manis, asin, dan berbagai rasa asli dari sayur mayur yang digunakan. Jika ditambah sambal, tentu rasa pedas makin bikin semangat. Karena dagangan ini sudah ada sejak sekitar tahun 50-an, maka tak aneh jika pelanggannya juga banyak dan turun menurun.

Contohnya saat Warta Kota tanpa sengaja bertemu pelanggan yang sudah sejak tahun 1960-an sudah sering menikmati asinan ini. "Sudah sejak tahun 1960-an, saya masih kecil, udah sering makan asinan ini. Dulu saya tinggal di Berlan, sering main ke sini cuma untuk cari asinan ini," ujar Supriati, yang kini tinggal di Pasar Rebo dan tetap kangen pada asinan Betawi ini. Kini, Supriati menjabat sebagai Kepala Sekolah Dasar Palmeriam. Bersama putrinya, dia rela menerjang jalanan Jakarta yang macet dan berdebu demi sebuah nostalgia dari seporsi asinan Betawi.

Asinan Betawi memang tak hanya ada di Jembatan Merah, Jakarta Selatan. Di Jakarta Timur, tepatnya di Jalan Kamboja, Rawamangun, juga ada asinan Betawi yang sudah berumur. Di sini, pembeli bisa makan di tempat karena asinan ini sudah punya tempat bernaung, warung. Soal rasa, semua tergantung selera.
Pernah Tertipu...Anih dan Inah, dua saudara kandung dari total 11 bersaudara putra-putri si jagoan asinan Betawi Jembatan Merah. Entah kekecewaan sebesar apa yang pernah menimpa mereka sampai-sampai kapok menghadapi wartawan. Bahkan ketika beberapa panitia menawarkan mereka untuk ikut pada acara jajanan yang sudah sering digelar, acara pernikahan, atau mengisi di Arena Pekan Raya Jakarta (PRJ)."Capek kalau ikut kayak gitu. Enggak ada tenaganya. Kita kan pagi-pagi udah harus belanja," jawab Anih. Untung Anih akhirnya mau angkat bicara setelah sebelumnya mereka berdua tiba-tiba tutup mulut begitu tahu ada wartawan datang. "Abis dulu kita pernah ditipu. Ada dari majalah katanya mau dikasih bonus sama majalahnya. Sampai sekarang enggak pernah nongol. Sama koran itu juga pernah dateng dua orang,katanya korannya mau dianter, tapi akhirnya kita beli sendiri. Jadi kita udah trauma sama wartawan," kata Inah yang sempat tiba-tiba mengeluh sakit gigi sehingga tak mau bicara. Dua bersaudara ini tentu saja cuma warga lugu yang berusaha melanjutkan warisan orangtua. Mereka yang tak biasa dengan basa-basi orang Jakarta yang kadang kebablasan, akhirnya memilih makin menyembunyikan diri. "Pokoknya saya enggak tahu apa-apa. Kita cuma jualan aja di sini," tandas Anih.

Jumat, 14 November 2008

Menggoyang Lidah Dengan Bubur

Bubur biasa disantap saat sarapan, namun tak aneh juga jika dimakan pada malam hari atau menjelang subuh. Bahkan, belakangan makanan yang disajikan panas-panas ini diminati orang untuk makan siang. Pilihan orang nyabu atau menyantap bubur karena tidak membuat perut kenyang bak makan nasi.

Kehadiran bubur ayam atau ikan di depan mata sungguh mengundang selera. Apalagi jika aroma bubur itu dilengkapi dengan lauk seperti telur pitan, cakwe, tumisan sayur dan lainnya, tentu tambah nikmat.

Olahan beras lembek ini banyak dijumpai di Jakarta dari kelas kaki lima sampai restoran kelas atas. Di antaranya, penikmat bubur mahfum dengan nama seperti bubur ”hostes” di Jalan Mangga Besar (Jakarta Barat), Bubur Ayam Cikini di Jakarta Pusat, Bubur Ayam dan Nasi Ayam Hainam Hayam Wuruk, Bubur Furama Jalan Hayam Wuruk (Jakarta Barat), atau Bubur Kwangtung Jalan Pecenongan (Jakarta Pusat).
Di Jalan Mangga Besar I terdapat lima kedai atau restoran bubur, di antaranya bubur Mangga Besar I dan Bubur Sanki.

Lantaran penggemar semakin banyak, sajian bubur makin berkembang dengan banyak variasi yang menambah nikmat dan sehat menu serba bubur.
Restoran bubur yang cukup populer di Jalan Mangga Besar I ialah Bubur Ayam Mangga Besar I milik Herry Himawan (62). Restoran ini mulai kebanjiran ”penyabu” sejak menyajikan menu pada sebuah pesta di hotel berbintang di kawasan Senayan, Jakarta Pusat.
Herry mengaku resep bubur ayam diperoleh dari ayahnya, Fong Ah Yin, yang membuka usaha bubur ayam di Medan. Setelah hijrah ke Jakarta tahun 1992, Herry membuka kedai di Jalan Mangga Besar I.

Bubur racikan Herry tak berbeda dengan tampilan bubur ayam pada umumnya. Bedanya, suwiran daging ayam kampung justru terkubur dalam bubur. Selain bubur ayam, kedai ini juga menyediakan bubur ikan. Bahan bubur sama, cuma ayam diganti irisan ikan gurame dan gabus. Ikan mentah segar diguyur bubur gurih membuat daging ikan cepat masak.

Begitu masakan tersaji, bau minyak wijen tercium. Di atas bubur ayam atau ikan yang dibumbui jahe ini ditaburi irisan daun bawang. Daging ayam dan potongan ikan tidak terlihat di atas. Namun, begitu bubur diaduk, akan tampak potongan daging ayam atau ikan.

Rasa daging ayam dan ikan ini begitu terasa ketika sendok pertama masuk dalam mulut. Rasa gurih di sela-sela kunyahan muncul karena suwiran daging direbus dengan dibumbui jahe.
Agar lidah semakin bergoyang, sumpitlah cakwe dan sayur asin. Melengkapi hidangan itu, comot aneka lauk seperti potongan daging ayam rebus, telur pitan berwarna coklat, tahu atau telur kecap. Rasa akan semakin tajam jika bubur dituangi irisan cabe bercampur kecap asin.
Akan tetapi jika ingin menyantap bubur dengan rasa berbeda, cobalah bubur kepiting dan bibir pie oh atau kura-kura yang menjadi andalan Resto Bubur Kwangtung yang disajikan dalam porsi besar.

Bubur putih berisi kepiting atau daging kura-kura (biasa untuk obat) dilengkapi dengan kacang tanah goreng, irisan daun bawang, dan cabe dicampur kecap asin.
Kepiting terkubur dalam bubur. Balik saja tubuh kepiting berwarna jingga itu, tersembullah telur kepiting yang gurih dan daging yang manis.
Bubur tiochiu
Mau makan bubur yang disajikan mirip restoran Padang? Datanglah ke Resto Furama. Pembeli bisa memilih langsung lauk dan sayuran yang ingin dia santap bersama bubur. Cobalah bubur tiochiu, bubur ala etnis China suku Tiochiu.
Bubur tiochiu tidak bisa disebut sebagai bubur ayam. Bubur ini tidak memakai ayam sebagai kaldu bubur. Daging ayam juga bukan satu-satunya protein yang dipakai, sebab ada ikan, jamur, daging sapi, ceker ayam, tumis kailan, dan sebagainya.

Menyantap bubur ini sama seperti menyantap nasi dengan lauk-pauk, hanya saja nasinya diganti dengan bubur. Jadi, memakan bubur ini tidak menyebabkan perut terasa penuh.
”Makanya, bubur ini cocok dimakan malam hari. Cocok bagi orang yang kelaparan, tetapi tak ingin makan berat,” kata Badi Herman, Manajer Promosi Furama pada Rabu (5/11).

Kebutuhan makan bubur pada malam hari sangat tinggi. Buktinya Furama harus menyediakan bubur dari pukul 18.00 hingga pukul 04.00, selama 365 hari setahun, karena pemakan bubur terus ada."Ramainya memang dari pukul 22.00 hingga 02.00. Kalau akhir pekan, pengunjung harus mengisi daftar antre,” kata Badi.

Tamu yang datang beragam. Walau Furama telah mengubah konsep menjadi restoran keluarga, namun pengunjung usia muda tetap terbanyak terutama pada tengah malam.
Restoran tersebut menyediakan 60 macam lauk, namun tiap hari hanya disajikan 40 macam agar ada penggantian. Restoran berdaya tampung 400 orang ini menyajikan keripik cumi dan cumi telor yang gurih.

Siapkan lidah Anda digoyang lezatnya bubur....

Sop Kambing Kuah Susu

Mendengar nama masakan sop kaki kambing, yang terbayang adalah rasa gurih dan segar kuah sop dan potongan bagian kaki kambing yang lezat. Salah satu tempat untuk mencicipi menu khas Betawi itu adalah kawasan Tanahabang, tepatnya di Jalan Kyai Haji Mas Mansyur.

Bicara sop kaki kambing, tentu Anda biasa membayangkan deretan pedagang sate dan sop kambing di kawasan Roxi dan juga Menteng. Tapi kali ini, Warta Kota menjajal di tempat lain. Meski dari sisi lokasi, warung sop kaki kambing ini jauh dari ideal, rasa kuah yang melewati saraf perasa di lidah sungguh memuaskan lapar.

Terletak di antara dua fly over yang melewati Jalan Kyai Haji Mas Mansyur, warung di sisi kiri jalan ini tampak seperti warung yang tak menjanjikan. Sederhana, ada di trotoar jalan tak jauh dari warung ini ada sekolah Jamiat Kheir dan di seberang warung ini berdiri kantor Kelurahan Kebon Kacang.

Menurut Hadi, si empunya warung, setiap hari—kecuali Minggu—ia membuka dagangan mulai pukul 17.30 hingga lewat tengah malam. Di warung kaki lima ini Hadi khusus menjual sop kaki dan kepala kambing, khas Betawi. Sate kambing hanya sebagai pemanis saja. ”Yang utama ya sop kaki dan kepala kambing,” ujar Hadi.

Pesanan pertama adalah seporsi sop kambing campur, maksudnya campuran kepala dan kaki. Sajian terdiri atas potongan bagian kepala kambing seperti lidah, tulang, telinga, mata, otak, plus kaki. Sementara pesanan sop kaki saja, isinya hanya kaki kambing. Ini semua terserah selera. Sekadar informasi, tak ada jeroan kambing di warung ini.