Kamis, 05 Februari 2009
Cukup Itu Berapa ?
Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib.Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya.
Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata "cukup".
Seke tika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubug mungilnya untuk disimpan disana.
Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Masih kurang! Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata cukup.
Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata "cukup". Kapankah kita bisa berkata cukup?
Hampir semua pegawai merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya.
Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih dibawah target.
Istri mengeluh suaminya kurang perhatian. Suami berpendapat istrinya kurang pengertian. Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati.
Semua merasa kurang dan kurang. Kapankah kita bisa berkata cukup?
Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya.
Cukup adalah persoalan kepuasan hati. Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri.
Tak perlu takut berkata cukup.Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya.
"Cukup" jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg dan berpuas diri. Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan. Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit berkata cukup.
Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia.
Belajarlah untuk berkata "Cukup"
Aku tak suka bibirku..kurang seksi. Aku ingin seperti Angelina Jolie.
Di saat yang sama seseorang berharap...
Tuhan, berikanlah aku bibir yang normal...
Aku ingin mataku berwarna biru..Akan lebih cantik bila aku punya mata berwarna biru..
Di saat yang sama seseorang berharap..
Tuhan, kenapa kau tidak berikan aku sepasang mata untuk melihat...
Aku oleskan pewarna dan kurawat jari-jariku agar selalu tampil cantik
Di saat yang sama seseorang bersyukur...
Tuhan, kau hanya berikan aku 4 jari, namun aku mensyukurinya. ..
Aku akan ke salon, creambath dan hairspa agar rambutku tampil cantik
Di saat yang sama seseorang menangis..
Tuhan, kenapa aku diberikan kepala dengan ukuran yang berbeda...
Kalau seperti ini, rambut seperti apapun akan terlihat aneh...
Di saat yang sama seseorang bersyukur...
Tuhan, kau tak memberikan aku tangan dan kaki..namun aku bahagia aku masih bisa berkarya...
Sesungguhnya tubuh kita adalah hal yang berharga
Tak peduli apapun warnanya, apapun ukurannya, apapun bentuknya...
Syukurilah itu sahabat...
Karena di luar sana masih banyak yang mengharapkan mendapat fisik yang lengkap...
Kau lah ciptaan Tuhan yang terbaik...
Kau yang tampan
Kau yang cantik
Syukurilah itu..walaupun itu hanya sementara...
Sahabat dengarlah... jutaan orang di luar sana ...
Berharap bisa melihat...
Berharap bisa mendengar...
dan berharap bisa berbicara... .
Seperti kita....
Kau tak pernah mengerti..
Dan tak kan pernah mengerti...
Sadarlah sahabat...
Bahwa sesungguhnya kau tidak kekurangan.. ..
Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata "cukup".
Seke tika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubug mungilnya untuk disimpan disana.
Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Masih kurang! Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata cukup.
Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata "cukup". Kapankah kita bisa berkata cukup?
Hampir semua pegawai merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya.
Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih dibawah target.
Istri mengeluh suaminya kurang perhatian. Suami berpendapat istrinya kurang pengertian. Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati.
Semua merasa kurang dan kurang. Kapankah kita bisa berkata cukup?
Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya.
Cukup adalah persoalan kepuasan hati. Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri.
Tak perlu takut berkata cukup.Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya.
"Cukup" jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg dan berpuas diri. Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan. Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit berkata cukup.
Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia.
Belajarlah untuk berkata "Cukup"
Aku tak suka bibirku..kurang seksi. Aku ingin seperti Angelina Jolie.
Di saat yang sama seseorang berharap...
Tuhan, berikanlah aku bibir yang normal...
Aku ingin mataku berwarna biru..Akan lebih cantik bila aku punya mata berwarna biru..
Di saat yang sama seseorang berharap..
Tuhan, kenapa kau tidak berikan aku sepasang mata untuk melihat...
Aku oleskan pewarna dan kurawat jari-jariku agar selalu tampil cantik
Di saat yang sama seseorang bersyukur...
Tuhan, kau hanya berikan aku 4 jari, namun aku mensyukurinya. ..
Aku akan ke salon, creambath dan hairspa agar rambutku tampil cantik
Di saat yang sama seseorang menangis..
Tuhan, kenapa aku diberikan kepala dengan ukuran yang berbeda...
Kalau seperti ini, rambut seperti apapun akan terlihat aneh...
Di saat yang sama seseorang bersyukur...
Tuhan, kau tak memberikan aku tangan dan kaki..namun aku bahagia aku masih bisa berkarya...
Sesungguhnya tubuh kita adalah hal yang berharga
Tak peduli apapun warnanya, apapun ukurannya, apapun bentuknya...
Syukurilah itu sahabat...
Karena di luar sana masih banyak yang mengharapkan mendapat fisik yang lengkap...
Kau lah ciptaan Tuhan yang terbaik...
Kau yang tampan
Kau yang cantik
Syukurilah itu..walaupun itu hanya sementara...
Sahabat dengarlah... jutaan orang di luar sana ...
Berharap bisa melihat...
Berharap bisa mendengar...
dan berharap bisa berbicara... .
Seperti kita....
Kau tak pernah mengerti..
Dan tak kan pernah mengerti...
Sadarlah sahabat...
Bahwa sesungguhnya kau tidak kekurangan.. ..
Kesederhanaan
Kesederhanaan adalah akhlaq
Kesederhanaan adalah dekat
Kesederhanaan adalah kebijaksanaan
Kesederhanaan adalah penarik simpati
Kesederhanaan itu menawan
Kesederhanaan itu mempesona
Kesederhanaan itu melahirkan cinta
Kesederhanaan itu menumbuhkan kasih sayang
Kesederhanaan adalah solusi
Kesederhanaan itu menyadarkan
Kesederhanaan adalah kekuatan
Kesederhanaan itu mengagumkan
Ya Rabb,,,
Ajarkanlah hamba kesederhanaan
Kesederhanaan menuju hakikat
Kesederhanaan yang membuahkan persaudaraan
Kesederhanaan yang tulus ikhlas
Kesederhanaan yang tidak mudah koyak
Kesederhanaan yang mengantarkan hamba pada “kesederhanaan” Mu
Kesederhanaan yang membuat hamba melaksanakan kewajiban dan meninggalkan larangan
dan
Kesederhanaan yang Engkau ridhai
Amin
Wassalam
Kesederhanaan adalah dekat
Kesederhanaan adalah kebijaksanaan
Kesederhanaan adalah penarik simpati
Kesederhanaan itu menawan
Kesederhanaan itu mempesona
Kesederhanaan itu melahirkan cinta
Kesederhanaan itu menumbuhkan kasih sayang
Kesederhanaan adalah solusi
Kesederhanaan itu menyadarkan
Kesederhanaan adalah kekuatan
Kesederhanaan itu mengagumkan
Ya Rabb,,,
Ajarkanlah hamba kesederhanaan
Kesederhanaan menuju hakikat
Kesederhanaan yang membuahkan persaudaraan
Kesederhanaan yang tulus ikhlas
Kesederhanaan yang tidak mudah koyak
Kesederhanaan yang mengantarkan hamba pada “kesederhanaan” Mu
Kesederhanaan yang membuat hamba melaksanakan kewajiban dan meninggalkan larangan
dan
Kesederhanaan yang Engkau ridhai
Amin
Wassalam
Label:
Doa/Puisi/Syair/Kata2Bijak
Rabu, 04 Februari 2009
Menjadi Penguasa Diri
Adalah sebuah kerugian bagi orang yang diberikan jabatan atau
kekuasaan tanpa bisa menguasai diri. Kedudukan dan jabatan yang
disandang, bukannya menambah kehormatan dirinya, malah menjadi
penyebab kehinaan. Begitu pun dengan kekuasaan yang dimiliki, akan
berbuah bencana bagi dirinya dan orang lain. Oleh karena itu, sebuah
keniscayaan bagi kita agar dapat menjadi penguasa atas diri. Menjadi
penguasa yang bisa mengendalikan diri dari segala perilaku yang tidak
sesuai dengan kehendak sang penguasa alam raya ini, yaitu Allah SWT.
Jabatan dan kekuasaan seseorang bukanlah ukuran bahwa orang itu
terhormat. Kedudukan tidak identik dengan kemuliaan. Allah memuliakan
dan menghinakan siapa pun yang dikehendakiNya. Kekuasaan, kedudukan,
dan jabatan tidak ada artinya jika disalahgunakan. Pejabat yang
menyalahgunakan kepercayaan yang telah diberikan kepadanya, pada
akhirnya akan menuai kehinaan. Bahkan kehinaan tersebut bisa menjadi
aib bagi keluarga atau masyarakat di sekitarnya.
Contoh lain adalah perlakuan tentara sebuah negara penjajah terhadap
tawanan perang. Mereka memperlakukan tawanan perang tersebut dengan
keji, layaknya binatang. Itu artinya sama dengan menghinakan makhluk
Allah. Perlakuan beberapa tentara tersebut, telah memicu demonstrasi
besar-besaran di berbagai negara. Tidak jarang dalam demonstrasinya,
para demonstran mengecam dan menghina negara penjajah tersebut dengan
keras. Ulah sebagian kecil tentara yang tidak dapat mengendalikan
dirinya telah menyebabkan negaranya ikut terhina.
Hikmah terpenting yang bisa kita ambil dari kejadian ini, adalah
pentingnya pengendalian diri dalam berbagai situasi dan kondisi.
Sebab, sangat mudah bagi Allah memuliakan dan menghinakan hambaNya.
Sebagaimana difirmankanNya, "Katakanlah, wahai Tuhan yang mempunyai
kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki
dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau
muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang
Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhya
Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu." (QS. Ali Imran : 26)
Sesungguhnya kekuasaan ada dalam genggaman Allah SWT. Siapa pun yang
ingin sukses menjadi penguasa, maka haruslah terlebih dahulu dapat
menguasai dirinya sendiri. Jika tidak bisa menguasai dirinya, maka
kekuasaan, jabatan, dan kedudukannya itu akan jatuh karena terlalu
memperturutkan hawa nafsu dan syahwatnya.
Saudaraku, sebagai seorang muslim, kita haruslah bisa mengendalikan
penglihatan, pendengaran, dan pembicaraan. Juga tidak kalah pentingnya
adalah mengendalikan hati. Karena hatilah yang mengendalikan mata,
telinga, dan mulut kita. Dengan mengendalikan hati, kita bisa menilai
sesuatu dengan jernih, bisa mengendalikan organ tubuh sesuai dengan
syariatNya. Dengan hati yang terkendali, kita bisa mengendalikan
gejolak asmara (cinta) yang membuat kita buta terhadap kebenaran.
Sehingga bisa menghindari jebakan maut syaithan. Karenanya, jadilah
penguasa atas diri sendiri. Menjadi penguasa diri adalah cermin mukmin
sejati. Wallahu a'lam.
kekuasaan tanpa bisa menguasai diri. Kedudukan dan jabatan yang
disandang, bukannya menambah kehormatan dirinya, malah menjadi
penyebab kehinaan. Begitu pun dengan kekuasaan yang dimiliki, akan
berbuah bencana bagi dirinya dan orang lain. Oleh karena itu, sebuah
keniscayaan bagi kita agar dapat menjadi penguasa atas diri. Menjadi
penguasa yang bisa mengendalikan diri dari segala perilaku yang tidak
sesuai dengan kehendak sang penguasa alam raya ini, yaitu Allah SWT.
Jabatan dan kekuasaan seseorang bukanlah ukuran bahwa orang itu
terhormat. Kedudukan tidak identik dengan kemuliaan. Allah memuliakan
dan menghinakan siapa pun yang dikehendakiNya. Kekuasaan, kedudukan,
dan jabatan tidak ada artinya jika disalahgunakan. Pejabat yang
menyalahgunakan kepercayaan yang telah diberikan kepadanya, pada
akhirnya akan menuai kehinaan. Bahkan kehinaan tersebut bisa menjadi
aib bagi keluarga atau masyarakat di sekitarnya.
Contoh lain adalah perlakuan tentara sebuah negara penjajah terhadap
tawanan perang. Mereka memperlakukan tawanan perang tersebut dengan
keji, layaknya binatang. Itu artinya sama dengan menghinakan makhluk
Allah. Perlakuan beberapa tentara tersebut, telah memicu demonstrasi
besar-besaran di berbagai negara. Tidak jarang dalam demonstrasinya,
para demonstran mengecam dan menghina negara penjajah tersebut dengan
keras. Ulah sebagian kecil tentara yang tidak dapat mengendalikan
dirinya telah menyebabkan negaranya ikut terhina.
Hikmah terpenting yang bisa kita ambil dari kejadian ini, adalah
pentingnya pengendalian diri dalam berbagai situasi dan kondisi.
Sebab, sangat mudah bagi Allah memuliakan dan menghinakan hambaNya.
Sebagaimana difirmankanNya, "Katakanlah, wahai Tuhan yang mempunyai
kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki
dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau
muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang
Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhya
Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu." (QS. Ali Imran : 26)
Sesungguhnya kekuasaan ada dalam genggaman Allah SWT. Siapa pun yang
ingin sukses menjadi penguasa, maka haruslah terlebih dahulu dapat
menguasai dirinya sendiri. Jika tidak bisa menguasai dirinya, maka
kekuasaan, jabatan, dan kedudukannya itu akan jatuh karena terlalu
memperturutkan hawa nafsu dan syahwatnya.
Saudaraku, sebagai seorang muslim, kita haruslah bisa mengendalikan
penglihatan, pendengaran, dan pembicaraan. Juga tidak kalah pentingnya
adalah mengendalikan hati. Karena hatilah yang mengendalikan mata,
telinga, dan mulut kita. Dengan mengendalikan hati, kita bisa menilai
sesuatu dengan jernih, bisa mengendalikan organ tubuh sesuai dengan
syariatNya. Dengan hati yang terkendali, kita bisa mengendalikan
gejolak asmara (cinta) yang membuat kita buta terhadap kebenaran.
Sehingga bisa menghindari jebakan maut syaithan. Karenanya, jadilah
penguasa atas diri sendiri. Menjadi penguasa diri adalah cermin mukmin
sejati. Wallahu a'lam.
Langganan:
Postingan (Atom)

