Kamis, 27 November 2008

Ke Mana Si Dia saat Patah Hati?



Menelepon teman untuk curhat atau menghabiskan semangkuk besar es krim akan jadi pelarian kita untuk menenangkan diri saat patah hati. Lalu, bagaimana dengan pria? Ke mana sih, mereka saat patah hati?

* “Wah, udah lama kayaknya enggak ngerasain patah hati. Tapi, dulu sih kalau patah hati, saya akan menyendiri di dalam kamar, main gitar sambil bikin lagu. Dengan mengungkapkan perasaan lewat lagu, perasaan akan jadi lebih lega.” Insan Ramadhan, 27, Single, Assistant Producer.

* “Nongkrong sama teman-teman jadi pilihan gue saat patah hati. Karena kalau kumpul, biasanya kami akan bersenang-senang. Otomatis dong, beban di hati bisa sedikit terlupakan.” Randy Rio. P, 27, Single, Account Executive.

* “Tempat pelarian paling tepat kalau lagi patah hati, teman-teman. Tapi, enggak berarti ketemu mereka untuk curhat ya, karena nanti malah tambah sedih. Jadi, ya do something fun bareng mereka aja.” Dimas Alditya, 26, Single,Event Organizer.

* “Biasanya sih, gue akan diam seharian di rumah, kalau perasaan gue enggak membaik, gue akan pergi ke gunung untuk beberapa hari. Buat gue, gunung adalah tempat yang menenangkan. Kalau sudah berhasil sampai puncak, rasanya beban di hati langsung hilang.” Wahyu Ugy, 27, Single, Freelancer.

* “Hmm, tergantung seberapa parah patah hatinya. Kalau patah hati karena ditolak perempuan sih, paling kumpul sama teman-teman juga sembuh. Tapi, kalau patah hati karena putus setelah bertahun-tahun menjalin hubungan, saya akan traveling sendirian keliling kota-kota yang belum pernah gue kunjungi sebelumnya.” Rio Ramaditya, 30, Single, General Manager.

* “Pernah tuh, gue gara-gara patah hati, enggak keluar kamar selama 2 minggu. Saat itu, rasanya gue cuma pengen sendirian dan malas banget mau melakukan apa pun, termasuk makan. Yang ada selama 2 minggu itu, kerjaan gue cuma main Play Station di dalam kamar.” Syarif, 27, Single, Public Relations.

* “Tempat pelarian paling enak saat patah hati sih, menurut gue ke gunung. Karena untuk mencapai puncak, pikiran kita kan, harus fokus, jadi enggak akan mikir macam-macam. Kalau sudah sampai di puncak, kita juga bisa teriak sekencangnya. Biasanya kalau sudah begitu, hati jadi lega.” Ade, 28, Single, IT Programmer.

* “Kalau patah hati, gue justru akan menyendiri, tapi di tengah keramaian. Mungkin mal atau kafe akan jadi tempat pelarian gue. Berada di tengah keramaian orang-orang yang enggak gue kenal, akan membuat gue merasa tenang, karena enggak akan ada orang yang tanya-tanya tentang keadaan gue.” M. Riki Naufal, 32, Single, Account Manager.

* “Studio musik biasanya jadi tempat paling pas waktu patah hati. Gue bisa main gitar sambil membuat lagu. Dan biasanya gue akan menabuh drum sepuasanya untuk menghilangkan sakit hati dan melepas beban di hati.” Andrea Yoediono, 30, Single, Event Organizer.

* “Buat saya sih, teman-teman selalu jadi tempat pelarian paling tepat kalau kita patah hati. Tapi, beda dengan perempuan ya, kalau kita kumpul-kumpul bukan untuk curhat. Karena, tanpa curhat pun biasanya mereka tahu kalau kita sedang ada masalah. Kalau sudah begitu, mereka akan melakukan sesuatu untuk menghibur kita.” Rayanto Nugraha, 29, Single, Research Analyze.

9 Alasan Bergaji Tinggi



Menurut US News, lupakan kerja keras karena ada hal-hal (di luar kehendak) yang membuat orang digaji lebih besar. Di antaranya:

1. Bertubuh tinggi
Menurut beberapa penelitian, orang bertubuh tinggi menghasilkan uang lebih banyak dari mereka yang bertubuh pendek.

2. Kidal
Aneh memang, tapi kenyataannya di Amerika kebanyakan orang bertangan kidal memiliki gaji lebih tinggi. Mungkin ini ada hubungannya dengan orang kidal lebih kreatif.

3. Berkelamin Lelaki
Masalah gender ini memang terjadi di mana-mana, bahwa lelaki umumnya berpenghasilan lebih besar daripada perempuan.

4. Status: Suami
Lelaki menikah dianggap lebih fokus pada pekerjaan dan tak repot mengurusi rumah tangga. Itu sebabnya, mereka lebih berprestasi dan mendapat gaji tinggi.

5. Perempuan Lajang
Begitu pula dengan perempuan lajang yang bisa bekerja lebih fokus dan lebih dari 40 jam seminggu (karena belum sibuk mengurusi suami dan anak).

6. Jenis Pendidikan
Menurut penelitian American Association of University Women Education Foundation, banyak perempuan lebih memilih bidang pendidikan, psikologi dan kesehatan yang tak memberi gaji sebesar ketimbang bidang teknik atau matematika yang banyak ditekuni lelaki.

7. Koneksi
Anda mungkin kenal baik dengan kepala divisi SDM/Personalia atau kepala divisi keuangan. Ini bisa saja mempengaruhi jumlah penghasilan yang Anda terima.

8. Bakat
Pada beberapa profesi, bakat juga berpengaruh. Seorang arsitek yang punya bakat besar, tentu bisa memberikan mutu kerja yang hebat pula.

9. Kerja Keras
Mengapa banyak orang bekerja lebih keras? Tentu dengan harapan mendapat kenaikan jabatan dan otomatis kenaikan gaji.

9 Penyebab Gaji Kecil



Memang gaji yang diterima setiap orang belum tentu sama. Dua orang manajer yang bekerja di satu bidang di perusahaan sama bisa memiliki penghasilan berbeda.

Kalau gaji yang diterima besar, tentu tak menjadi masalah. Gaji kecil lah yang sering membuat kita bertanya-tanya. Apa saja yang memengaruhi kecilnya gaji? Ini faktornya.

1. Pendidikan Standar
Memang banyak pengusaha yang tidak lulus pendidikan tinggi bisa sukses dan mendapat penghasilan besar. Meski begitu, pendidikan tinggi tetap membantu seseorang mendapat penghasilan lebih besar. Statistik menunjukkan, orang yang menempuh pendidikan tinggi cenderung menghasilkan lebih banyak uang daripada mereka yang berpendidikan rendah.

2. Usia Muda
Mereka yang berumur 25 tahun ke bawah cenderung berpenghasilan lebih rendah dibandingkan yang berumur di atas 25 atau 30 tahun. Ini masuk akal mengingat pengalaman di satu bidang, jika ditekuni dari tahun ke tahun akan membuat pengalaman bertambah sehingga penghasilan pun juga bertambah.

3. Pengalaman Minim
Sudah pasti makin banyak dan lama pengalaman bekerja, makin tinggi pula nilai jual kita. Maka tak heran, jika usia di atas 25 tahun Anda baru mulai bekerja, gaji pun tak sebesar mereka yang sudah mulai bekerja 2 tahun lebih awal.

4. Hanya Staf
Jika jabatan atau posisi di tempat kerja hanya staf, meski usia di atas 30 tahun dan pengalaman kerja cukup banyak, tentu gaji Anda hanya “jalan di tempat”.

5. “Lahan Kering”
Setiap jenis usaha memiliki rentang gaji yang berbeda. Hal ini disesuaikan dengan beban kerja, waktu, tanggung jawab, dan besarnya pengaruh keputusan berdasarkan hasil kerjanya. Misalnya, di industri migas tentu akan berbeda tanggung jawab dan beban kerjanya dengan bidang perbankan. Meski posisi sama-sama staf dengan pengalaman kerja 5 tahun.

6. Kerja Lapangan
Bekerja di luar kantor memang lebih banyak menggunakan fisik dan sedikit memerlukan otak. Alhasil, posisi lebih rendah dan gaji lebih kecil dari yang duduk manis di kantor. Pernah dengar istilah white collar worker (pekerja kerah putih yang lebih banyak menggunakan pikiran dalam bekerja) dan blue collar worker (pekerja kerah biru yang lebih banyak menggunakan tenaga)? White collar worker biasanya menghasilkan lebih banyak uang daripada blue collar worker.

7. Status
Apakah pegawai tetap, pegawai kontrak waktu tertentu (PKWT), atau pegawai dari kontraktor (consultant)? Pegawai kontrak level bawah (non-staff) biasanya menerima gaji lebih kecil dibanding pegawai tetap. Namun, untuk level staf ke atas seringkali pekerja kontrak lah yang bergaji lebih besar daripada pegawai tetap.

8. Bad Attitude
Pernah berbuat kesalahan yang membuat atasan tak lagi menyukai Anda? Bisa jadi faktor ini membuat gaji Anda tak pernah naik karena bos tak mau memberi rekomendasi kenaikan gaji.

9. Diskriminasi
Masalah gender dan SARA memang masih berpengaruh. Tak heran jika di beberapa perusahaan, karyawan perempuan mendapat gaji lebih rendah dibanding lelaki untuk pekerjaan yang sama. Atau karyawan dari suku X (yang sama dengan suku si bos) mendapat gaji lebih tinggi daripada karyawan dari suku berbeda.

Nah, semoga pertanyaan Anda sudah terjawab!