Sabtu, 13 Desember 2008
Logika Tak Suka Cinta
Sudah lama aku hidup dengan logika. Bagiku ia sahabat terbaik sepanjang masa. Bahkan saat aku masih di kandungan ibuku pun barangkali ia sudah berbaring turut melengkung di sebelahku. Ikut menendang-nendang perut ibuku, kadang malah iseng menyenggol-nyenggol bahuku.
Aku dan logika tak pernah terpisah. Nyaris sembilan belas tahun aku berjasad dan ber-ruh, logika tak pernah sedikitpun bergeser letak dariku. Nyaris selama itu pula logika selalu membantuku, bermain-main dalam jasad dan ruh-ku, tapi tak pernah meninggalkanku barang sekerjap waktu sekalipun.
Ia berlari saat aku terburu-buru mengejar waktu, tapi ia tidak ngos-ngosan. Ia membungkuk saat aku tertekan dan terpuruk, tapi ia tidak sayu dan layu. Ia tegap saat aku dilanda senang, tapi ia tidak melayang. Ia siaga saat aku mengernyitkan jidat dan memicingkan mata jika ada seseorang yang dengan tidak sopannya menyenggolku. Namun ia tidak berteriak. Itu logika ku. Logika yang begitu kupuja sepenuh hidupku. Yang selalu tahu apa yang harus aku kerjakan ketika aku sedang dilanda apapun. Yang tak pernah salah memberitahuku apa yang harus kulakukan.
Begitu bangganya aku dengan logika ku. Sampai aku heran sekali melihat orang yang begitu mudahnya tersulut api amarah hanya karena wajahnya tiba-tiba ditampar orang di jalan raya. Betapa gampangnya orang menangis mengharu-biru hanya karena ditinggal wafat oleh sanak keluarganya. Betapa durjanya orang bermuram kala tidak mendapat pekerjaan setelah seharian mendatangi berbagai lowongan.
Aku hanya heran di mana logika mereka. Tidakkah mereka juga punya logika, sama sepertiku. Tapi kenapa mereka tidak bertingkah sepertiku. Aku tidak pernah marah ketika orang mencaci-makiku, bahkan meludahiku tanpa alasan yang jelas sekalipun. Aku tidak pernah menangis tersedu-sedu ketika ayah dan ibuku mati di depan mataku. Aku tidak pernah murung ketika seharian harus berjalan kaki keluar-masuk pintu kantor tanpa mendapat hasil. Karena aku punya logika. Logika ku yang begitu kupuja. Logika ku yang selalu memberiku alasan kenapa semua itu terjadi. Logika yang selalu bisa membuat aku mengerti apa yang kulalui dan kuhadapi dalam hidupku.
- - o - -
Aku bangga dengan logika. Masih bangga. Masih kupuja. Hingga aku bertemu dengan seorang wanita yang menyapaku di dunia maya. Tidak pernah sekalipun kami bersua. Hanya perbincangan ringan lewat kata-kata yang muncul di layar komputer saja. Aku sapa. Dia sapa. Sedikit basa-basi, dan kamipun larut dalam canda tawa yang membuatku lupa dengan logika.
Kadang aku ditemani dengan secangkir teh hangat. Sambil berbincang-bincang dengan wanita itu. Dia juga begitu hangat menyapa dan berbicara kepadaku, seperti secangkir teh yang setia menemaniku setiap aku bersua dengannya-tentu di ranah maya. Dia sungguh pandai membuatku terlena dalam tiap kata nya. Tidak ada yang membuatku begitu bersemangat melalui hari-hariku selain menghabiskan beberapa jam berbincang-bincang dengannya. Wanita itu selalu bisa membuatku tersenyum. Tak pernah kehabisan akal untuk membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Hingga satu hari aku mendapat nilai C di salah satu mata kuliahku-yang membuatku merasa ingin langsung mendatangi dosen pengampunya dan mengacak-ngacak wajahnya yang menyebalkan, wanita itu bisa membuatku lupa bahwa indeks prestasiku jatuh gara-gara nilai mata kuliahku itu.
Aku memuja wanita itu. Begitu bangganya aku dengan dia. Tidak ada yang membuatku begitu gundah gulana kecuali sehari tak mendapatkan kabar darinya. Tidak ada yang membuatku sangat gelisah dan merasa ingin mati saja, selain saat malam itu aku membuatnya mengeluarkan air mata. Oh, tidak. Aku telah berbuat salah. Salah yang sangat besar. Begitu besarnya hingga lebih baik aku dihukum dijadikan buta saja oleh Tuhan, daripada aku harus melihat wanita itu memberikan wajah dengan lelehan air mata.
Aku melihat air mengalir dari kedua bola matanya yang bulat dan indah. Sedikit berkilau karena basah oleh airmata, yang masih saja terus mengalir, sudah lewat beberapa belas menit padahal. Ia terus saja mengeluarkan air mata. Aku harus apa. Aku harus bagaimana. Apa yang harus aku lakukan agar wanita itu tidak mengeluarkan air mata. Aku tidak bisa melihat ia seperti itu. Karena saat ia mengeluarkan air mata ia tidak bisa tertawa ria. Ia tidak bisa membuatku tersenyum, apalagi terpingkal-pingkal. Aku harus bagaimana.
Entah kenapa, sejak itu logika ku jarang muncul. Aku cari-cari dia. Aku ingin sekali bercerita tentang wanita yang kukenal lewat ranah maya. Aku ingin sekali berbagi dengan logika. Karena memang aku tak pernah lupa menceritakan apapun yang terjadi dalam hari-hariku kepada logikaku.
Aku ingin bertanya pada logika apa yang harus kulakukan terhadap wanita itu. Karena aku ingin wanita itu tidak meninggalkanku. Aku ingin wanita itu selalu menemaniku berbincang-bincang kapanpun masih hidup waktu. Aku tak mau wanita itu berhenti membuatku tertawa. Aku tak ingin dia pergi dari pikiranku. Aku tak ingin dia mengeluarkan air mata.
Aku ingin minta saran dari logika. Karena logika ku tak pernah salah. Ia selalu tahu apa yang harus kulakukan.
- - o - -
Hari berganti. Logika ku belum juga bisa kutemui. Aku gelisah. Semakin detik waktuku berlalu semakin resah. Aku seperti linglung. Berjalan mondar-mandir tak tentu dalam kamarku yang ikut murung. Aku bingung. Wanita itu masih mengeluarkan air mata, sementara logika ku juga lenyap entah ke mana.
Aku letih. Aku berbaring saja di kasurku yang sekarang jadi tak begitu nyaman. Mungkin karena apa yang sedang aku alami sekarang, membuat setiap anggota badanku bertambah beban.
Aku pejamkan mata dengan beribu gundahku. Dalam pandanganku yang tak lagi memandang aku masih mencari-cari logika. Kucari-cari ia dalam kelopak mataku yang sudah mengatup menutup bola mataku. Aku bergumam, berharap logika muncul dan berbaring di sebelahku. Karena aku begitu butuh ia sekarang. Sekarang juga. Aku mau bertanya tentang apa yang kualami dengan wanita itu.
“Itu cinta.”
Aku tergagap. Mataku membuka sekejap, mengernyitkan jidat dan memicingkan mata. Itu suara logika! Logika datang. Ah, betapa senangnya aku. Kini aku bisa bercerita panjang lebar dengannya. Aku bisa menceritakan tentang wanita itu kepadanya.
“Kau mau bertanya tentang kau dan wanita itu kan? Kau sedang bingung kan?”
Aku mengangguk cepat. Seperti yang kuduga. Logika selalu tahu apa yang aku alami. Tentu saja, ia juga tahu apa yang harus aku lakukan terhadap apa yang aku alami tersebut. Aku sekarang bersemangat, bersemangat untuk mendengar sarannya terhadap aku dan wanita itu.
“Itu namanya cinta, teman.”
Aku termangu. Aku memandang logika dengan terheran. Aku belum pernah dengar itu.. ‘cinta’.
“Kau tahu kenapa aku selalu tidak ada bersamamu, setiap kau bertemu dan berbincang panjang-lebar dengan wanita itu?” Tanya logika, yang langsung menjawab pertanyaannya sendiri tanpa menunggu aku mengeluarkan sepatah katapun dari bibirku yang tiba-tiba jadi kelu. “..karena aku tau cinta akan datang padamu.”
Aku terdiam saja. Memandang logika lekat-lekat seolah bertanya padanya, ‘kenapa?’.
“Oh ya aku lupa”, logika menggaruk-garuk kepalanya dengan malas. “Kau belum pernah melihatku bertemu dengan dia ya. Asal kau tahu saja, kami tidak begitu berteman akrab. Aku tidak suka dengan cinta. Kau tahu, setiap kami berjumpa kami selalu bertengkar. Jadi lebih baik aku pergi menyingkir saja darimu, sementara cinta menemanimu.”
Aku memberikan pandangan memelas pada logika. Ia tahu bahwa aku sedang bertanya padanya, ‘lalu aku harus bagaimana?’.
“Jangan bertanya padaku tentang cinta, teman. Aku sudah bilang aku tidak suka dia. Lagipula kau tidak perlu aku untuk membahas soal cinta. Aku tidak bisa sekalipun mengerti dia. Begitu juga dia, tidak pernah sedetikpun bisa mengerti aku.” Jawab logika dengan nada ingin cepat-cepat menyudahi perbincangan ini.
Aku tertunduk. Logika tidak pernah seperti ini padaku. Ia selalu tahu, dan selalu bisa menolongku kapanpun aku butuh. Tapi kini ia jadi begini. Ia malas berurusan denganku saat ini. Hanya karena ia tidak suka dengan cinta.
“Oh ya, satu yang perlu kau ingat teman. Kau tidak perlu seperti itu karena aku meninggalkanmu.” Kata Logika lagi. “.. karena cinta akan lebih sering meninggalkanmu daripada aku.”
Lalu logika pergi lagi dariku. Tanpa berbicara lagi, ia lenyap dalam sejuta rasa cemasku.
(Djogdjakarta. 2008. 21 Juni)
Aku dan logika tak pernah terpisah. Nyaris sembilan belas tahun aku berjasad dan ber-ruh, logika tak pernah sedikitpun bergeser letak dariku. Nyaris selama itu pula logika selalu membantuku, bermain-main dalam jasad dan ruh-ku, tapi tak pernah meninggalkanku barang sekerjap waktu sekalipun.
Ia berlari saat aku terburu-buru mengejar waktu, tapi ia tidak ngos-ngosan. Ia membungkuk saat aku tertekan dan terpuruk, tapi ia tidak sayu dan layu. Ia tegap saat aku dilanda senang, tapi ia tidak melayang. Ia siaga saat aku mengernyitkan jidat dan memicingkan mata jika ada seseorang yang dengan tidak sopannya menyenggolku. Namun ia tidak berteriak. Itu logika ku. Logika yang begitu kupuja sepenuh hidupku. Yang selalu tahu apa yang harus aku kerjakan ketika aku sedang dilanda apapun. Yang tak pernah salah memberitahuku apa yang harus kulakukan.
Begitu bangganya aku dengan logika ku. Sampai aku heran sekali melihat orang yang begitu mudahnya tersulut api amarah hanya karena wajahnya tiba-tiba ditampar orang di jalan raya. Betapa gampangnya orang menangis mengharu-biru hanya karena ditinggal wafat oleh sanak keluarganya. Betapa durjanya orang bermuram kala tidak mendapat pekerjaan setelah seharian mendatangi berbagai lowongan.
Aku hanya heran di mana logika mereka. Tidakkah mereka juga punya logika, sama sepertiku. Tapi kenapa mereka tidak bertingkah sepertiku. Aku tidak pernah marah ketika orang mencaci-makiku, bahkan meludahiku tanpa alasan yang jelas sekalipun. Aku tidak pernah menangis tersedu-sedu ketika ayah dan ibuku mati di depan mataku. Aku tidak pernah murung ketika seharian harus berjalan kaki keluar-masuk pintu kantor tanpa mendapat hasil. Karena aku punya logika. Logika ku yang begitu kupuja. Logika ku yang selalu memberiku alasan kenapa semua itu terjadi. Logika yang selalu bisa membuat aku mengerti apa yang kulalui dan kuhadapi dalam hidupku.
- - o - -
Aku bangga dengan logika. Masih bangga. Masih kupuja. Hingga aku bertemu dengan seorang wanita yang menyapaku di dunia maya. Tidak pernah sekalipun kami bersua. Hanya perbincangan ringan lewat kata-kata yang muncul di layar komputer saja. Aku sapa. Dia sapa. Sedikit basa-basi, dan kamipun larut dalam canda tawa yang membuatku lupa dengan logika.
Kadang aku ditemani dengan secangkir teh hangat. Sambil berbincang-bincang dengan wanita itu. Dia juga begitu hangat menyapa dan berbicara kepadaku, seperti secangkir teh yang setia menemaniku setiap aku bersua dengannya-tentu di ranah maya. Dia sungguh pandai membuatku terlena dalam tiap kata nya. Tidak ada yang membuatku begitu bersemangat melalui hari-hariku selain menghabiskan beberapa jam berbincang-bincang dengannya. Wanita itu selalu bisa membuatku tersenyum. Tak pernah kehabisan akal untuk membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Hingga satu hari aku mendapat nilai C di salah satu mata kuliahku-yang membuatku merasa ingin langsung mendatangi dosen pengampunya dan mengacak-ngacak wajahnya yang menyebalkan, wanita itu bisa membuatku lupa bahwa indeks prestasiku jatuh gara-gara nilai mata kuliahku itu.
Aku memuja wanita itu. Begitu bangganya aku dengan dia. Tidak ada yang membuatku begitu gundah gulana kecuali sehari tak mendapatkan kabar darinya. Tidak ada yang membuatku sangat gelisah dan merasa ingin mati saja, selain saat malam itu aku membuatnya mengeluarkan air mata. Oh, tidak. Aku telah berbuat salah. Salah yang sangat besar. Begitu besarnya hingga lebih baik aku dihukum dijadikan buta saja oleh Tuhan, daripada aku harus melihat wanita itu memberikan wajah dengan lelehan air mata.
Aku melihat air mengalir dari kedua bola matanya yang bulat dan indah. Sedikit berkilau karena basah oleh airmata, yang masih saja terus mengalir, sudah lewat beberapa belas menit padahal. Ia terus saja mengeluarkan air mata. Aku harus apa. Aku harus bagaimana. Apa yang harus aku lakukan agar wanita itu tidak mengeluarkan air mata. Aku tidak bisa melihat ia seperti itu. Karena saat ia mengeluarkan air mata ia tidak bisa tertawa ria. Ia tidak bisa membuatku tersenyum, apalagi terpingkal-pingkal. Aku harus bagaimana.
Entah kenapa, sejak itu logika ku jarang muncul. Aku cari-cari dia. Aku ingin sekali bercerita tentang wanita yang kukenal lewat ranah maya. Aku ingin sekali berbagi dengan logika. Karena memang aku tak pernah lupa menceritakan apapun yang terjadi dalam hari-hariku kepada logikaku.
Aku ingin bertanya pada logika apa yang harus kulakukan terhadap wanita itu. Karena aku ingin wanita itu tidak meninggalkanku. Aku ingin wanita itu selalu menemaniku berbincang-bincang kapanpun masih hidup waktu. Aku tak mau wanita itu berhenti membuatku tertawa. Aku tak ingin dia pergi dari pikiranku. Aku tak ingin dia mengeluarkan air mata.
Aku ingin minta saran dari logika. Karena logika ku tak pernah salah. Ia selalu tahu apa yang harus kulakukan.
- - o - -
Hari berganti. Logika ku belum juga bisa kutemui. Aku gelisah. Semakin detik waktuku berlalu semakin resah. Aku seperti linglung. Berjalan mondar-mandir tak tentu dalam kamarku yang ikut murung. Aku bingung. Wanita itu masih mengeluarkan air mata, sementara logika ku juga lenyap entah ke mana.
Aku letih. Aku berbaring saja di kasurku yang sekarang jadi tak begitu nyaman. Mungkin karena apa yang sedang aku alami sekarang, membuat setiap anggota badanku bertambah beban.
Aku pejamkan mata dengan beribu gundahku. Dalam pandanganku yang tak lagi memandang aku masih mencari-cari logika. Kucari-cari ia dalam kelopak mataku yang sudah mengatup menutup bola mataku. Aku bergumam, berharap logika muncul dan berbaring di sebelahku. Karena aku begitu butuh ia sekarang. Sekarang juga. Aku mau bertanya tentang apa yang kualami dengan wanita itu.
“Itu cinta.”
Aku tergagap. Mataku membuka sekejap, mengernyitkan jidat dan memicingkan mata. Itu suara logika! Logika datang. Ah, betapa senangnya aku. Kini aku bisa bercerita panjang lebar dengannya. Aku bisa menceritakan tentang wanita itu kepadanya.
“Kau mau bertanya tentang kau dan wanita itu kan? Kau sedang bingung kan?”
Aku mengangguk cepat. Seperti yang kuduga. Logika selalu tahu apa yang aku alami. Tentu saja, ia juga tahu apa yang harus aku lakukan terhadap apa yang aku alami tersebut. Aku sekarang bersemangat, bersemangat untuk mendengar sarannya terhadap aku dan wanita itu.
“Itu namanya cinta, teman.”
Aku termangu. Aku memandang logika dengan terheran. Aku belum pernah dengar itu.. ‘cinta’.
“Kau tahu kenapa aku selalu tidak ada bersamamu, setiap kau bertemu dan berbincang panjang-lebar dengan wanita itu?” Tanya logika, yang langsung menjawab pertanyaannya sendiri tanpa menunggu aku mengeluarkan sepatah katapun dari bibirku yang tiba-tiba jadi kelu. “..karena aku tau cinta akan datang padamu.”
Aku terdiam saja. Memandang logika lekat-lekat seolah bertanya padanya, ‘kenapa?’.
“Oh ya aku lupa”, logika menggaruk-garuk kepalanya dengan malas. “Kau belum pernah melihatku bertemu dengan dia ya. Asal kau tahu saja, kami tidak begitu berteman akrab. Aku tidak suka dengan cinta. Kau tahu, setiap kami berjumpa kami selalu bertengkar. Jadi lebih baik aku pergi menyingkir saja darimu, sementara cinta menemanimu.”
Aku memberikan pandangan memelas pada logika. Ia tahu bahwa aku sedang bertanya padanya, ‘lalu aku harus bagaimana?’.
“Jangan bertanya padaku tentang cinta, teman. Aku sudah bilang aku tidak suka dia. Lagipula kau tidak perlu aku untuk membahas soal cinta. Aku tidak bisa sekalipun mengerti dia. Begitu juga dia, tidak pernah sedetikpun bisa mengerti aku.” Jawab logika dengan nada ingin cepat-cepat menyudahi perbincangan ini.
Aku tertunduk. Logika tidak pernah seperti ini padaku. Ia selalu tahu, dan selalu bisa menolongku kapanpun aku butuh. Tapi kini ia jadi begini. Ia malas berurusan denganku saat ini. Hanya karena ia tidak suka dengan cinta.
“Oh ya, satu yang perlu kau ingat teman. Kau tidak perlu seperti itu karena aku meninggalkanmu.” Kata Logika lagi. “.. karena cinta akan lebih sering meninggalkanmu daripada aku.”
Lalu logika pergi lagi dariku. Tanpa berbicara lagi, ia lenyap dalam sejuta rasa cemasku.
(Djogdjakarta. 2008. 21 Juni)
Sari Buah Hangat Pengusir Flu

CORBIS,COMAMAN: Mengonsumsi minuman sari buah hangat lebih aman untuk mengobati gejala flu, dibandingkan minum obat dengan bahan kimia.
LONDON-- Mengonsumsi minuman obat tradisional yang berasal dari buah anggur manis yang hangat terbukti dapat meringankan pilek, bersih-bersin bahkan rasa lelah yang mengikuti saat sakit. Demikian diungkap sebuah studi terbaru.
Jutaan orang diperkirakan akan mengalami rasa dingin atau flu pada musim dingin kali ini.
"sangat mengejtkan, penemuan itu sebagai yang pertama membuktikan manfaat dari minuman hangat untuk membantu meringankan gejala flu," ujar Direktur Common Cold Center Cardiff University, Professor Ron Eccles yang melaksanakan studi tersebut.
"Temperatur yang terus menurun menjelang akhir tahun, maka virus flu akan semakin menjadi-jadi," terangnya.
Dia menuturkan, menyiapkan satu botol minuman dari anggur manis di lemari penyimpanan dan menghangatkannya sebelum diminum, dapat membantu meringankan gejala flu.
"Keuntungan utama dari pengobatan cara itu adala murah, aman serta efektif," tegasnya.
Penelitian itu menemukan, minuman hangat dari buah anggur manis yang sederhana dapat meringankan dan melegakan gejala pilek, batuk, bersin, sakit tenggorokan, kedinginan serta kelelahan. Demikian dilaporkan para peneliti pada Journal Rhinology.
Studi itu juga meneliti efek dari minuman yang berasal dari apel atau buah blackcurrant dalam keadaan hangat atau hanya termperatur ruangan, terhadap 30 orang relawan yang mengalami gejala flu.
Hasilnya, para peneliti kini percaya gejala flu dapat dikurangi dengan mengonsumsi minuman hangat. (telegraph.co.uk/ri)
Sayur Dan Buah Lebih Berkhasiat
Membeli buah-buahan dan sayuran merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan. Namun, cara Anda menyimpan dan mengolah dapat menjadikan buah atau sayur jadi berkurang vitaminnya sehingga Anda tak bisa memanfaatkannya secara maksimal. Supaya tak terjadi lagi, ikuti petunjuk berikut.
* Agar kacang merah dan kacang polong tidak banyak kehilangan vitamin yang terkandung di dalamnya, sebaiknya disimpan dengan kulitnya sampai saatnya akan digunakan, baru dikupas.
* Sayuran seperti seperti kol, salada, bayam, dan kangkung membutuhkan temperatur yang dingin dan kelembapan tinggi untuk mempertahankan semua vitamin dan gizi yang terkandung di dalamnya. Karena itu simpanlah di dalam kantong/wadah yang tertutup di lemari es, di rak/bak untuk sayuran/buah.
* Tempat terbaik untuk menyimpan beberapa jenis sayur dan buah seperti tomat dan buah tropis lainnya adalah di suhu normal tapi usahakan jangan kena sinar matahari langsung karena akan mempercepat kebusukan.
CARA MENGOLAH
* Panas dan air, keduanya dapat mengurangi kandungan vitamin dan gizi yang terdapat di dalam makanan. Jadi, sebaiknya masaklah makanan secepat mungkin dan dengan sedikit air. Cara memasak yang terbaik adalah dengan menggunakan microwave, ditumis, dan dikukus.
* Jika merebus sayuran seperti tomat, agar kandungan vitamin di dalamnya tak banyak terbuang serta tomat lebih cepat matang, rebus air hingga mendidih baru masukkan tomat atau sayuran dengan api yang terus menyala agar cepat matang dan juga tidak memakan waktu lama yang bisa membuat vitamin "hilang".
* Cuci sayuran dengan cepat di bawah keran dengan air yang mengalir. Atau celup celupkan ke dalam panci yang berisi air dan kemudian tiriskan. Jangan pernah merendamnya karena air dapat melarutkan vitamin.
* Sedapat mungkin jangan mengupas atau membuang kulit buah-buahan. Vitamin banyak terdapat atau berkumpul tepat di bawah kulit, seperti kalsium, zat besi, dan potassium. Contohnya; jika memakan sebuah apel yang besar dengan kulitnya, akan mengandung 54 persen lebih banyak zat besi daripada jika imakan tanpa kulit.
* Jangan memotong sayuran dan buah-buahan dengan ukuran terlalu kecil karena akan menjadi lebih mudah menyerap udara yang bisa menghilangkan beberapa jenis vitamin di dalamnya.
* Agar kacang merah dan kacang polong tidak banyak kehilangan vitamin yang terkandung di dalamnya, sebaiknya disimpan dengan kulitnya sampai saatnya akan digunakan, baru dikupas.
* Sayuran seperti seperti kol, salada, bayam, dan kangkung membutuhkan temperatur yang dingin dan kelembapan tinggi untuk mempertahankan semua vitamin dan gizi yang terkandung di dalamnya. Karena itu simpanlah di dalam kantong/wadah yang tertutup di lemari es, di rak/bak untuk sayuran/buah.
* Tempat terbaik untuk menyimpan beberapa jenis sayur dan buah seperti tomat dan buah tropis lainnya adalah di suhu normal tapi usahakan jangan kena sinar matahari langsung karena akan mempercepat kebusukan.
CARA MENGOLAH
* Panas dan air, keduanya dapat mengurangi kandungan vitamin dan gizi yang terdapat di dalam makanan. Jadi, sebaiknya masaklah makanan secepat mungkin dan dengan sedikit air. Cara memasak yang terbaik adalah dengan menggunakan microwave, ditumis, dan dikukus.
* Jika merebus sayuran seperti tomat, agar kandungan vitamin di dalamnya tak banyak terbuang serta tomat lebih cepat matang, rebus air hingga mendidih baru masukkan tomat atau sayuran dengan api yang terus menyala agar cepat matang dan juga tidak memakan waktu lama yang bisa membuat vitamin "hilang".
* Cuci sayuran dengan cepat di bawah keran dengan air yang mengalir. Atau celup celupkan ke dalam panci yang berisi air dan kemudian tiriskan. Jangan pernah merendamnya karena air dapat melarutkan vitamin.
* Sedapat mungkin jangan mengupas atau membuang kulit buah-buahan. Vitamin banyak terdapat atau berkumpul tepat di bawah kulit, seperti kalsium, zat besi, dan potassium. Contohnya; jika memakan sebuah apel yang besar dengan kulitnya, akan mengandung 54 persen lebih banyak zat besi daripada jika imakan tanpa kulit.
* Jangan memotong sayuran dan buah-buahan dengan ukuran terlalu kecil karena akan menjadi lebih mudah menyerap udara yang bisa menghilangkan beberapa jenis vitamin di dalamnya.
Langganan:
Postingan (Atom)

